Sunday, 25 September 2016


Kata kunci : Bibir
oleh Ranny Afandi

 Kutatap wajah istriku sambil membelai lembut rambutnya.

Kalimatmu siang tadi masih terngiang jelas di telingaku.

“Kamu itu miskin! Selama ini yang bantu biayain SPP anak-anak adalah adikku, tau kamu?!”

Pandanganku beralih ke wajah pias istriku.

“Sayang, setiap kamu melontarkan kalimat kasar, aku seperti melihat lintah keluar dari bibirmu,” ujarku sambil mengusap peluhnya.

Ini bukan kali pertama istriku berkata kasar padaku di hadapan orang lain. Wajahnya yang dulu kupuja kini terlihat kelam di mataku. Bibir yang sering kupagut kini bak lubang yang sering mengeluarkan lintah.

Kini bibirmu takkan bisa mengeluarkan lintah.

Aku tertawa sambil memotong benang terakhir di sudut bibir istriku.

***

Saturday, 24 September 2016


Kata kunci : Gigi
oleh Harry Bawole

 Sudah seminggu lebih sakit gigi Ayah kambuh lagi. Berkali-kali Ibu menyarankan agar pergi ke dokter gigi, tapi Ayah selalu menolak.

"Kalau tidak diperiksa, sakit gigimu akan lebih parah," ujar Ibu memulai pembicaraan.

"Lebih baik aku obati sendiri dari pada harus pergi ke tempat dokter gigi itu."

"Jangan berprasangka buruk dulu."

"Aku kenal betul wajahnya, Bu?"

"Bisa saja dia orang lain yang kebetulan wajahnya mirip."

"Aku tidak buta. Perasaanku selalu tidak enak ketika sorot matanya tajam menatapku. Dari mimik wajahnya, aku juga bisa merasakan dendamnya seperti ribuan jarum menusuk dadaku."

"Jadi penasaran. Nanti sore aku temani. Kita pergi ke sana lagi."

"Tapi, Bu .."

"Sudah, jangan banyak bicara! Aku juga masih ingat wajah orang yang tidak sengaja kita tabrak hingga meninggal di tempat 3 tahun lalu itu."

***

Friday, 23 September 2016


Kata kunci : Kutil
oleh Nina Nur Arifah

 Kutilku bertambah lagi. Bentuknya aneh. Permukaannya bergelombang. Kadang terasa gatal.

Tapi Mas Bowo justru menyukainya. Bahkan ia sering mengecup gerombolan kutil ini tiap kami bercinta. Kini tak hanya kemaluanku, penis dan bibir Mas Bowo juga ditumbuhi kutil serupa.

Beberapa bulan berlalu. Kutil-kutil ini menguras berat badan kami berdua. Hingga seminggu lalu Mas Bowo meninggal dunia. Entah kenapa.

Aku kehilangan. Kutil-kutil di kemaluanku merindunya bukan kepalang. Mereka meradang bagai kembang. Berdarah-darah seperti air pasang.

Tapi semua orang hanya datang untuk memandang. Lamat kudengar seseorang bergumam, “Denger-denger lakinya suka jajan perempuan, ya? Kasihan … dia kena AIDS juga.”

***
Sumber

Wisnu Widiarta KESEMPATAN KEDUA. Setelah ijab qabul mempelai pria pamit sebentar untuk melakukan ijab qabul dengan mempelai wanita lainnya.

Edmalia Rohmani KESEMPATAN KEDUA. Antara takut dan ragu Wisnu memencet tombol mesin waktu, untuk kembali ke masa sebelum dia melamar istrinya.

Ardi Rahardian KESEMPATAN KEDUA - "Ayo, bunuh aku sekarang. Tombak saja. Sudah letih aku jadi babi hutan!" keluh Si Babi yang ingin reinkarnasi jadi manusia.

Firas Sarif TUHAN MEMBERIKAN KESEMPATAN KEDUA. Dalam balutan kain kafan, ibu melahirkanku.  

Selamat buat Fiksimini terpilih, ide Fiksimini-nya berhasil membuat admin menjura :)

Thursday, 22 September 2016

#TopikPuisi kali ini adalah image ini:



Sumber


Puspita ChocoVanilla
MUSAFIR

Penuh damba pada awan-awan
Yang membawa malaikat turun bernafiri
Melagukan syahdunya cinta surgawi
Namun ... hatiku kian meranggas
Seiring pencarianku yang belum tuntas
Sebab, benih itu belum kubiarkan bertunas


Rifki Jampang
RODA DUNIA


kesedihan, kesusahan, duka di jiwa
tak akan selamanya dirasa
cepat atau lambat, semua akan sirna

kesenangan, kebahagiaan, suka di hati
tak akan seterusnya terjadi
ia akan pergi lalu berganti


San San  
TAMAN EDEN

Dua ras bersayap hidup berdampingan
Di padang rumput bermahkotakan pohon pengetahuan

Mereka hidup dalam suka cita
Sampai Adam tercipta

Kini dua ras itu hidup menyendiri
Bagai langit dan bumi


Firas Sarif  
Pada rongga dada yang retak
Jantungku berdetak-detak
Pada rangkaian tulang-tulang rusak
Hatiku masih merasakan sesak
Langkah kakiku tersedak
Memunguti kenangan yang berseraK


Selain mengandung syair dan diksi pilihan, sebuah puisi juga harusnya tetap mengandung makna yang utuh dan mampu menggetarkan jiwa. Gak gampang lo, mengeksekusi itu tak lebih dari enam baris, dengan tema gambar nonrealis pula. Jadi, selamat buat puisi terpilih kali ini :)

foto : filterforge.com

oleh : Ruby Astari

Sekilas, rumah berlantai tiga di ujung jalan itu tampak suram. Tapi, kamu akan berubah pikiran bila melihat para penghuninya.

Satu keluarga tinggal di dalamnya. Ada suami, istri, dan kedua anak mereka. Pasangan itu masih tampak muda untuk ukuran orang tua dari dua anak yang sudah masuk sekolah dasar.

Sang suami, Adrian, adalah seorang jaksa penuntut yang sudah berhasil memenjarakan banyak pelaku kriminal. Dia laki-laki tampan berwajah ramah, dengan kerut samar yang muncul setiap dia tersenyum. Istrinya, Cara, adalah seorang ibu rumah-tangga sekaligus konsultan hortikultura dari rumah. Cantik, cerdas, dan kelihatan rajin merawat diri. Tipikal soccer mom. Rajin mengantar-jemput kedua anak mereka yang masih sekolah. Menyetir Pontiac Fiero tua yang masih bagus kondisinya, entah keluaran tahun berapa.

Kedua anak mereka ternyata kembar berusia delapan tahun. Yang laki-laki bernama Bryan dan yang perempuan Beth, mungkin panggilan dari ‘Bethany’ atau ‘Elizabeth’. Keduanya juga manis, baik dan ramah, meski Bryan lebih pendiam. Beth-lah yang rajin menyapaku setiap kali berpapasan.

“Hi, Mr. Franks.”

            Siang itu, kedua anak itu saling bergandengan saat masuk ke dalam rumah. Kuperhatikan mereka, sebelum masuk ke dalam rumah sewaku sendiri di seberang. Ada yang harus kuselesaikan…

—***—

“Jangan lupa. Tepat tengah malam.”

            Kubaca lagi SMS dari klienku dengan enggan. Lewat jendela, kuperhatikan rumah itu di ujung jalan. Tampak sepi dan tenang. Semua penghuninya pasti sudah terlelap.

Kulirik senapan otomatisku dan menghela napas. Mungkin kamu akan heran, kenapa baru kali ini rasanya berat menjalankan tugasku.

Untuk pertama kalinya, aku diminta ‘menangani’ satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak. Salahku, yang kali ini membiarkan diriku terlalu dekat dengan targetku sendiri…

Cerita asli DI SINI

**
Awalnya terkesan seperti cerita biasa. Sekadar deskripsi sebuah keluarga kecil dengan penghuni yang 'baik-baik saja' plus tetangga yang ramah. Bagian akhir seperti sebuah kejutan yang mengubah arah cerita dari drama menjadi thriller.

Baca juga cerita lainnya, ya. 

 1. Fajar Rahmad Hidayat - Jangan Pulang
2. Aulia Rahman - Rumah di Ujung Jalan
3. Chocovanilla - Rumah di Ujung Jalan
4. Zen Ashura - Rumah di Ujung Jalan
5. Glowing Grant - Rumah di Ujung Jalan
6. Vanda Kemala - Rumah di Ujung Jalan

Kata kunci : Malam Pertama
oleh Uni Dzalika

Aku menyiapkan pisau plastik dan beberapa lilin sebagai pernak-pernik. Kupandangi sekali lagi kue berlapis velvet --kesukannya. Setelah menancapkan lilinnya di atas kue, aku mengecek jam di ponsel sekali lagi, dan memastikan semuanya sudah siap. Membawa kue, aku tanpa izin mengunjungi kost-nya dini hari begini demi memberi kejutan di hari ulang tahunnya. Aku tahu sebetulnya tak lazim perempuan berkeliaran pukul segini. Langkahku tergesa tapi kucoba tidak membuat gaduh.

Namun, di depan pintu aku merasa kamarnya sangat berisik.

Ada teriakkan mendesah dan sesekali suara pukulan. Kudorong pintunya perlahan yang lupa dikunci dan menemukan ia dengan seorang lelaki tengah melakukan sesuatu yang biasa dilakukan suami-istri di malam setelah mereka menikah. Tapi, pacarku melakukannya dengan seorang lelaki. "Ini hadiah terindah, makasih ya!"

Seseorang telah lebih dulu memberi hadiah. Dan aku gemetar hebat dengan kue dan pisau plastik di tanganku.

***

Wednesday, 21 September 2016


Kata kunci : Akad Nikah
oleh Harry Irfan

 "Paaak... Banguuun, Pak!" Perempuan berdaster bunga-bunga itu terus saja menarik sarungku.

Aku hanya membuka sebelah mata, lalu berbalik memeluk guling.

"Katanya hari ini kamu ada tugas toh. Udah jam berapa ini, kesiangan loh kamu!" Desaknya sembari mencubit lembut betisku.

"Kasihan loh calon mantennya nungguin!" Sarungku kembali jadi korban, kali ini ditarik sampai melorot.

"Dih, Pak. Anumu kok berdiri?" ia mulai tak fokus, "owalah, Pak, bangun toh, Pak. Kalau gak bangun, aku foto nih kamu bugil trus aku share di grup whatsapp KUA." Ancamnya, tapi sambil menawan tawa.

Akhirnya aku bangkit dan menyerah, ogah-ogahan menuju kamar mandi sembari membatin, "Duh, Dek, seandainya kamu bisa tahu perasaan suamimu ini, yang harus menikahkan mantan kekasihnya dengan lelaki lain."

***

Tuesday, 20 September 2016


Kata kunci : Sabun
oleh Anastasye Natanel

 Sepulang sekolah aku langsung melempar tas secara sembarang dan berlari ke kamar mandi. Sejak di ojek tadi aku sudah kebelet pipis. Tapi kamar mandi sedang dipakai. Pasti ayah.

"Ayah, masih lama? Aku sudah kebelet." Aku menggedor pintu dengan kencang.

"Ambilkan sabun yang Ayah beli kemarin di lemari di kamar Ayah." Ayah membuka setengah pintu kamar mandi tanpa memedulikan keadaanku.

"Tapi aku sudah kebelet," bantahku dengan gerakan serupa cacing kepanasan.

"Kau ambilkan dulu sabun Ayah. Jangan membantah." Kalau sudah begini aku hanya bisa manut. Kuambil sabun pesanan ayah. Sedikit terkejut karena sabunnya berbeda dengan yang biasa dipakai ayah. Gambarnya perempuan cantik berkulit putih. Ini sabun yang ayah pakai tahun lalu sebelum akhirnya berganti ke sabun antiseptik dengan gambar satu keluarga kecil.

Ayah mengambil sabunnya sambil memintaku menunggunya lima menit.

Satu menit. Dua menit. Waktu berjalan sangat lambat menuju lima menit. Kandung kemihku sudah mau meledak.

"Ayaaaahhhh..." teriakku tak tahan.

"Oek! Oek! Oek!"

Sial. Bayi baru lagi. Padahal tahun lalu aku baru saja punya adik.

***

Monday, 19 September 2016

Halo, Gaes!
Udah pada nungguin prompt terbaru? Ini dia!

Sumber: 9gag

Nah sekarang, nyok kita lanjut lihat ketentuannya:

1. Buat sebuah flashfiction dengan tema kemanusiaan
2. Cerita tidak boleh lebih dari 300 kata
3. Genre bebas
4. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
5. Jangan lupa juga share ke twitter @Monday FF. :)


Selamat berimajinasi!



 oleh Zen Ashura

Ada hal-hal yang salah di matamu dan tak pernah jelas apa sebabnya. Saban-saban ayam tetangga pulang ke kandangnya, kau berucap bahwa jerapah-jerapah itu memakan bulan. Pantaslah anakmu merongrong meminta penjelasan. Di Bone tidak ada jerapah, Puan!

Sampai kini pun aku masih tak mengerti mengapa semuanya berubah tiba-tiba. Berawal dari kau yang pulang sesudah aku pulang, lama setelah rembang petang. Padahal kau tahu, aku tahu, kalau kau tak pernah tak ada di rumah bila kelam telah memekat.

“Ada urusan, Kanda. Pagarri’ mi salangku,” lirihmu meminta maaf. Reda sudah amarahku, Puan. Mau bagaimana lagi?

Namun, aku tetap hakulyakin ada apa-apa yang terjadi padamu sore itu.

“Aku baik-baik saja, Kanda. Buat apa risau?” bantahmu saat petang selanjutnya, kala tumpah ruah seluruh rasa penasaran. “Tak payahlah kau mengkhawatirkan daku. Kerja saja sana yang keras, yang rajin.”

Aku mengangguk menyanggupi. Kau wanita yang kuat, Puan. Aku sempurna mengerti.

“Daku… daku tak ingin utang budi kita semakin membukit kepada Daeng Uncu.”

Pun aku, Puan. Lelah sudah hati ini rasanya menerima begitu banyak kebaikan beliau. Simpati yang menghimpit, rumit.

“Kanda, sebelum tidur nanti, maukah kau menyuruh pulang Amma Toa-mu yang tengah berbaring di lantai dapur? Bisa masuk angin dia.”

Puan, masihkah kau memintaku untuk tidak mengkhawatirkanmu?

Amma Toa telah mati setahun lalu.

*

Ada hal-hal yang salah di matamu dan aku mulai tak tahan. Sendok dan garpu yang bersanggama, serta kau yang geli setengah mati ketika menceritakannya. Langit-langit bumi serta bintang di kakimu. Laba-laba berbokong hati yang menjerat lalat hanya untuk dilepas kembali. Aih! Makin hari makin gila rasanya kita berdua!

“Sudah kaucoba periksa ke puskesmas?” tanya Ambe’ mendesak lirih.

“Sudah, Ambe’. Mereka bilang demam. Obatnya sudah kuminumkan,” jawabku seraya mengelus-elus kepala istriku yang tak henti-henti mengeluh kedinginan.

“Sudah ke Sanro’?”

Aku tertegun. Tak pernah terpikir olehku untuk meminta bantuan nonmateriil dari Daeng Uncu yang merupakan saudagar kaya juga dukun kampung yang terkenal itu. “Euh… itu… be-belum, Ambe’.”

“Minta beliau untuk datang ke sini.”

*

“Nah? Hendak apa kau ke mari, ndi?” tanya Daeng Uncu usai kuteriaki namanya berkali-kali.

“Istriku! Istriku, Daeng! Jatuh sakit! Ambe’ menyuruhku memanggil Sanro’ untuk menyembuhkannya. Tolong, Daeng! Selamatkanlah istriku!”

Dia hanya diam, menatapku tajam.

“Tolonglah Daeng! Aku mohon!”

Sedetik sebelum aku memutuskan untuk sujud di kakinya, senyum sinis terbit di wajahnya.

“Sudah kubilang tinggalkan saja oroane miskin sepertimu. Biar hidupnya senang, tak melulu susah. Eh makkunrai jalang itu malah memakiku. Sekarang matilah dia terkena doti!”

“Do-doti? Daeng… mengguna-guna istriku? BANGSAT!”

Belum sempat aku mendaratkan tinju di wajah buruk penuh keriputnya, seseorang menarik tubuhku.

“Andi! Cepat! Rumahmu dilalap api!”

Kutengok langit di tenggara sana telah menghitam diselimuti asap, tepat di atas atap rumahku.

Puan!

Seberapa cepat pun kaki ini berlari, segalanya telah teramat terlambat. Sesampainya di sana, aku hanya disambut oleh kerumunan yang sibuk berteriak-teriak, panas yang menyengat, serta bau daging yang terbakar.

Dan di tengah hiruk pikuk yang sulit kumengerti, masih terdengar bisik istriku tepat di telinga.

“Tak lagi dingin, Kanda. Namun mengapa hangat ini terasa membakar?”

Ah, Puan! Seandainya kau mampu melihat jerapah-jerapah itu kini tengah memakan matahari.

***

Pagarri’ mi salangku : Maafkanlah kesalahanku (Bugis)

Ambe’ : Ayah (Bugis)

Amma Toa : Nenek (Bugis)

Sanro’ : Dukun kampung (Bugis)

Ndi, Andi : Dik, Adik (Bugis)

Oroane : Lelaki (Bugis)

Makkunrai : Perempuan (Bugis)

Doti : Guna-guna (Bugis). Di wilayah Bone, banyak folk belief yang berhubungan dengan ilmu-ilmu, guna-guna atau kepandaian tertentu yang dimiliki seseorang. Misalnya, perempuan utamanya gadis jangan sampai terlalu kasar jika menolak ungkapan cinta atau lamaran seorang lelaki. Sebab lelaki yang kecewa ditolak cintanya bisa masiri (malu merasa dilecehkan) dan mengirimkan doti. Efek dari doti ini antara lain sakit keras, melakukan hal-hal yang tidak masuk di akal dan bahkan kematian.

cerita asli DI SINI

***
Latar kedaerahan yang kental, dengan penuturan yang rapi membuat cerita ini begitu memikat. Suka!

Baca juga cerita keren lainnya, ya. :)

1. Glowing Grant - Di Matamu
2. Fajar Rahmad Hidayat - Bantut
3. Vanda Kemala - Pesan Mas Dani







Kata kunci : Selaput
oleh Mazmo Lombok

 "Kurang ajar! Dasar penipu!"

Teriakan itu terdengar memecah keriuhan pagi di sebuah los daging. Sesekali teriakan itu ditimpali dengan serapah. Seorang lelaki terlihat menunjuk-nunjuk ke arah perempuan yang sedang memotong daging. Pagi ini ia berjualan sendirian. Tidak seperti biasanya ia dibantu anak gadisnya.

"Jadi Bapak maunya yang seperti apa?!"

Perempuan itu meletakkan pisau besarnya lalu menatap tajam ke arah lelaki berseragam itu.

"Saya maunya daging seperti sebelum-sebelumnya. Yang tadi malam katanya daging segar. Tapi apa?!"

Lelaki itu kembali berteriak.

Disaksikan berpasang-pasang mata, perempuan itu menjawab dengan tidak kalah keras, "Saya tahu persis! Yang tadi malam itu masih benar-benar segar."

"Alah! Dasar pembohong kamu! Kembalikan uang saya!" Lelaki itu berkata ketus sambil melangkah ke belakang meja daging. Dengan cekatan, ia mengambil sepuluh lembar uang seratus ribuan.

Perempuan itu melepas kepergian pelanggannya dengan tatapan kosong. Ia tidak percaya dengan ucapan pelanggannya itu. Bergegas ia menutup lapaknya lalu pulang.

Sementara di depan sebuah rumah, seorang gadis berusia tujuh belas tahun sedang berusaha memasukkan anak kunci ke lubangnya. Matanya terlihat sembap. Rambutnya terlihat acak-acakan.

"Semoga ibu tidak marah kalau tahu selaput daraku ternyata sudah lebih dulu pecah," isaknya memasuki rumah.

***

Sunday, 18 September 2016


Kata kunci : Poligami
oleh Aulia Rahman A

- Mama... ngantuk.

+ Abang sudah makan? Tadi dicariin Umi.

- Belum. Ngantuk.

+ Makan dulu, Umi bawain makan, habis itu bobok sama Aa' di mobil.

- Tapi mau lihat dedek.

+ Nanti kalau dedek udah keluar, Mama bangunin.

- Bunda masih di dalam?

+ Bunda masih sama dedek. Belum bisa diganggu.

- Umi bawain makan apa?

+ Nah, itu Uminya. Umi, Abang ngantuk tapi belum makan.

* Ya sudah makan dulu, Nak. Aa' sama Teteh juga lagi makan di mobil.

- Umi bawain apa?

* Ayam bakar sama pie susu. Kesukaan Abang.

- Yaudah, mau makan.

* Saya bawa Abang dulu, ya Kak.

+ Iya, Abang baik-baik sama Umi, ya. Sini cium Mama dulu.

- Nanti kalau dedek keluar kasih tahu ya, Ma. Dadah. Salam sama Bunda.

***

Saturday, 17 September 2016


Kata kunci : Ikan
oleh Wisnu Widiarta

 “Sayang, jaga ibumu baik-baik di rumah ya. Ayah mau cari ikan yang banyak agar kehidupan kita lebih baik” kata sang ayah sambil mengelus perut istrinya yang buncit itu.

“Suamiku, hati-hati ya. Cinta kami bersama dirimu” kata sang ibu melepas kepergian suaminya yang bekerja sebagai nelayan itu.

Seminggu lamanya sang suami telah meninggalkan istri dan jabang bayinya.

“Nak, temani ibumu melihat televisi yuk” kata sang ibu sambil menekan remote.

“Sebuah kapal nelayan ditenggelamkan oleh seorang menteri dari Indonesia. Seluruh anak buah kapalnya ditangkap ketika mencoba melawan petugas..” kata seorang jurnalis melaporkan.

Sang ibu pingsan membayangkan ikan-ikan yang berenang menertawakan nasib mereka.

***

Friday, 16 September 2016


Kata kunci : Buruh
oleh Vanda Kemala

NAIKKAN UPAH MINIMUM
STOP PHK
HAPUS OUTSOURCING
***
Hari ini demo massal. Begitu kesepakatan kami sejak seminggu lalu. Seluruh operasional harus lumpuh. Lakukan sweeping seluruh pabrik di sepanjang jalan menuju kantor Bupati, tanpa terkecuali.

Kami harus berjuang! Agar para petinggi itu tahu kalau gaji yang mereka beri itu tidak cukup. Pun agar pak Bupati tahu, rakyatnya masih hidup melarat.

"Nggak bosen lihat berita soal demo terus, Rum?"

Televisi dimatikan. Tangannya menyentuh lembut bahuku yang telanjang. Gelagat Pak Bos ingin memulai ronde kedua, dan langsung kulayani.

Memperjuangkan kenaikan gaji tak melulu harus dengan otot dan teriakan lantang, bukan?

***

Thursday, 15 September 2016

Sumber

Firas Sarif
NEGARA API GUSAR - Oksigen ditarik dari peredaran.

Na Fatwaningrum Adianto
MENDADAK NASIONALIS. Sejak negara memintanya untuk turun dari jabatannya.

Lukman Hambali 
TERLAMBAT GAJIAN. Ibu negara marah besar, dapur tak ngebul, ranjang kering kerontang.

Firas Sarif
MANTAN INTELIJEN - Menjajakan matanya dengan harga tinggi.

Rini Bee Adhiatiningrum 
NEGARA BONEKA. Ibu negaranya boneka manekin.

Ardi Rahardian 
NEGARA BERKEMBANG. Terus berkembang meledakkan jumlah penduduknya.

Firas Sarif 
NEGARA TERKECIL - Baru ditemukan dengan bantuan mikroskop.

Carolina Ratri
NEGARA ANGIN. Punggung penduduknya bergaris-garis merah semua.

Wisnu Widiarta 
NEGARA EGOIS - di pelupuk mata tiada tampak, di seberang lautan tampak.

Harry Bawole
STATUS DWI KENEGARAAN DIHAPUS. "Cepat kirim kembali tubuhku yang separuhnya!" ujar Ibu panik.


Harry Bawole 
REVOLUSI. "Kita akan bentuk negara baru!" | "Gimana caranya?" | "Tenang, Ibu Negara ada di sini."

Vanda Kemala 
NEGARA BANGKRUT. Presiden meloak bendera negara.

Fajar Rahmad Hidayat 
NEGARA MISKIN. Presidennya makan nasi aking.

Horeee! Kali ini yang ikutan Fiksimini Games banyak! Thanks to admin Firas yang okeh banget nge-hostnya *menjura. Satu yang lumayan bikin admin ngakak, otomatis jadi Fiksimini pilihan kali ini. Jempol deh!