Tuesday, 23 August 2016


oleh : Nurkholil Setiawan

Kutunggu di gudang :*

Sebuah pesan dari lelakiku. Aneh, alih-alih mendatangiku di kamar, ia malah menyuruhku ke gudang. Didorong rasa penasaran, aku pun turun ke lantai bawah dan segera menuju gudang.

Tok! Tok! Tok!

Tak ada jawaban. Kuputar pegangan pintu lalu mendorongnya perlahan. Gelap. Kuraba dinding ruangan sempit itu lalu menekan tombol untuk menyalakan lampu. Seketika, nuansa oranye menyelimuti setiap sudut ruangan. Remang, tapi cukup membantu untuk melihat jelas.

“Hai, kemarilah!” ujar lelakiku.

Ruangan ini masih sama, dengan tumpukan barang yang bersandar pada dinding. Namun di tengah ruangan, yang luasnya tak seberapa, lelakiku tengah duduk di lantai di belakang meja yang berisikan hidangan untuk dua orang.

“Sebaiknya kau kunci pintunya,” ucap lelakiku setengah berbisik.

Aku menutup pintu lalu menguncinya. Dan bergegas duduk di sudut lain meja. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari bahwa barang-barang di ruangan ini kini tertumpuk rapi dan tak lagi berdebu.

“Apa ini?” tanyaku.

“Sebentar,” lelakiku mengambil korek api api lalu menyalakan empat batang lilin di sudut kiri dan kanan meja. “Ini yang orang-orang bilang Candle Light Dinner.”

Aku tersenyum. Tak menyangka lelakiku bisa seromantis ini. “Bukankah ini baru lewat satu dua jam dari waktu makan siang?”

“Aku tahu,” jawab lelakiku. “Tapi kita hanya punya waktu di siang hari seperti ini, bukan?”

“Ya,” jawabku getir. “Kita memang jarang punya waktu untuk berdua.”

“Maaf,” ucapnya seraya menggenggam tanganku.

“Tak apa, aku paham,” tuturku seraya menggenggam balik. “Dan sebenarnya kau pun tak perlu melakukan ini.”

“Aku memang bukan pria romantis,” ucapnya seraya menatapku dalam. “Tapi dirimu begitu mengagumi telenovela dan drama-drama sejenis. Aku tahu aku harus melakukan ini sesekali jika tak ingin kehilanganmu.”

Aku tersipu. Beruntung dengan minimnya cahaya di gudang berhasil menutupi wajahku yang mulai memerah. Kami pun mulai makan hidangan di meja. Tak banyak yang kami perbincangkan kala itu. Tapi gestur dan tatapan kami menunjukkan bahwa ini adalah waktu yang indah bagi kami berdua.

“Sudah jam empat, aku harus menjemput si Anj*ng.”

“Bisakah kau tidak memanggilnya dengan sebutan seperti itu?”

“Lalu, kau mau aku memanggilnya ‘Suamimu’?”

Aku cemberut.

“Hei, sudahlah. Jika semua berjalan sesuai rencana, pria itu tak akan lagi menghalangi cinta kita. Aku pun sudah lelah berpura-pura menjadi kacungnya.”

“Tapi..”

“Tak perlu khawatir,” ucapnya meyakinkanku. “Racun yang kuberikan padamu tak akan terlacak secara medis. Kau pun hanya memberikannya dalam dosis rendah setiap hari. Dalam beberapa minggu, kau tentunya sudah harus berpura-pura sedih akibat kematiannya.”

“Dan kita akhirnya bisa bersama.”

“Ya, dan rumah ini akan menjadi milik kita.”

Aku tersenyum membayangkan masa-masa indah yang akan datang itu.

**
Baca juga cerita teman yang lain, ya. :)

1. Wilda Hurriya - Di Gudang
2. Vanda Kemala - Cerita di Hari Minggu
3. Nurkholil Setiawan - Candle Light Dinner





Thursday, 11 August 2016


oleh Glory Grant

Jalanan begitu lengang saat aku pulang sekolah. Tak biasanya begini. Biasanya banyak pedagang kaki lima berjualan di sekitar sekolah. Atau… apakah aku yang terlampau siang keluar dari sekolah?

Ah, jika memikirkan tentang pulang… rasanya aku tak ingin pulang dari sekolah. Tidak seperti anak lainnya, aku lebih baik mengerjakan sesuatu di dalam kelas sampai sore daripada harus pulang cepat ke rumah. Aku tak suka pulang cepat seperti hari ini. Aku benci harus menghadapi ibu tiri yang suka memaki, juga saudara-saudara tiri yang selalu iri.

Seandainya aku bisa, aku ingin ikut ibuku ke surga. Aku ingin pergi bersama beliau. Aku mengutuk diriku sendiri karena selamat dari kecelakaan itu. Aku benci ayah yang memilih bibi tetangga untuk merawatku.

Aku menatap batu bata yang tersusun di trotoar jalan. Tiba-tiba perutku berbunyi. Aku lapar. Sejak pagi aku belum makan. Tapi untunglah tadi sahabatku, Rika, memberiku sebungkus roti. Aku mengeluarkannya dari dalam tas.

“Nak, bisa tolong Nenek?” Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku saat aku sedang membuka bungkusan roti. Aku menoleh dan melihat seorang nenek berpakaian lusuh sedang membawa sebuah tas rotan di tangannya.

“Apa yang bisa kubantu, Nek?” tanyaku.

“Nenek belum makan dari kemarin. Bisakah kamu memberikan roti itu untuk Nenek?”

Aku memandang roti di tanganku. Lalu memandang wajah nenek yang begitu pucat itu. Pastilah perut beliau sangat sakit saat ini. Kuputuskan untuk memberikan roti itu padanya. Aku masih bisa makan malam nanti jika ibu tiri tidak kumat kejinya.

“Ini, Nek,” kataku sambil menyerahkan rotiku pada beliau.

“Terima kasih, Nak. Kau sungguh baik. Apa yang bisa Nenek lakukan untukmu?” tanyanya.

“Ah, tak perlu membayarnya, Nek. Itu buat Nenek. Nggak apa-apa,” jawabku.

“Kalau begitu terima kasih banyak, ya. Nenek memang tak punya uang,” kata beliau. “Tapi… nenek punya kembang api,” lanjut nenek itu sambil mengeluarkan sekotak kembang api dari balik jaket lusuhnya.

“Ini untukmu,” katanya. “Oh, ya. Ini juga untukmu,” lanjut nenek itu sambil menyerahkan tas rotannya padaku.

“Apa isi tas ini, Nek? Sepertinya barang berharga. Aku tak bisa menerimanya jika memang demikian,” tolakku.

“Kau pasti akan membutuhkannya. Bawa saja, Nak. Tidak apa-apa,” kata nenek itu.

Akhirnya aku mengambil barang yang diberikan nenek aneh itu. Setelah itu aku kembali berjalan pulang.

Tiba di rumah, aku mendengar suara piring pecah dan suara makian ibu tiriku. Dengan gemetaran, aku membuka pintu rumah. Ada apa lagi ini?

“Heh, sudah pulang rupanya? Jam berapa ini?” hardik ibu tiriku begitu aku masuk.

“Maaf aku terlambat,” jawabku.

“Apa yang ada di tanganmu itu? Kau habis mencuri, ya?” tanyanya.

“Tidak, Bu. Aku bertemu seorang Nenek di jalan pulang. Beliau memberikanku ini karena aku memberinya roti,” jelasku.

“Roti? Jadi, selain mengambil tas dari seorang nenek, kau juga mencuri roti? Hebat benar anak ini!”

“Aku tidak mencuri, Bu,” kataku.

“Jangan bohong!! Cepat masuk kamarmu! Apa kau pikir aku bodoh? Mana mungkin ada orang yang mau memberikan tasnya pada anak sepertimu!”

* * *

Tak terasa hari sudah malam. Selama itu aku menangis. Dalam gelap, aku mendengar suara berisik dari dalam tas rotan pemberian nenek tadi siang. Aku mendekati tas itu lalu membukanya. Aku terkejut saat melihat dua ekor kelinci putih di dalam tas. Mereka melompat ke pangkuanku saat tas terbuka. Aku mengelus-elus kepala mereka.

“Karin, jangan menangis lagi ya!” Salah satu kelinci itu berbicara.

“Kau bisa bicara?” tanyaku tak percaya.

“Kami adalah kelinci ajaib, Karin,” jawab kelinci satu lagi.

“Ayo kita keluar dan nyalakan kembang api pemberian nenek,” ajak si kelinci.

“Tapi, bagaimana kalau ketahuan ibu tiriku?” kataku.

“Tenang saja, dia tak akan tahu,” yakin si kelinci.

Benar saja kata mereka. Aku keluar dari rumah dengan mudahnya. Kedua kelinci itu berlarian di halaman rumput belakang rumahku. Aku bergegas menyalakan kembang api.

“Saat kembang api menyala, buatlah sebuah permintaan,” kata  si kelinci.

“Apakah permintaanku bisa terkabul?” tanyaku.

“Tentu saja, jika kau memintanya sepenuh hati,” jawab si kelinci.

Dan, begitu kembang api menyala, aku memejamkan mata dan membuat sebuah permohonan.

* * *

“Nona, hari ini mau makan apa? Nanti ibu masakkan, ya.”

“Eh, Dik. Tasmu berat, kan? Biar kakak yang bawakan ya?”

“Ke sekolah nanti biar mbak yang antar. Jangan berjalan kaki!”

“Ayo berangkat!” kataku pada saudara-saudara tiriku. Kemudian aku melambaikan tangan pada ibu tiriku. “Pergi dulu, ya, Bu!”

Kini mereka semua berubah menjadi baik padaku. Senang sekali karena permohonanku bisa terkabul.

**
Cerita yang manis. Aku senang karena penulis -meski kisah ini berbalut nuansa dongeng- memilihkan sebuah ujung yang sederhana, tidak berlebihan. Selamat. :)

Baca juga cerita yang lainnya, ya.

1. Glory Grant - Kembang Api dan Sebuah Permohonan
2. Sarif Seva - Putih-Putih















Monday, 8 August 2016

Halo!

Ketemu lagi di prompt Senin.
Kali ini kita akan main-main dengan setting sajalah yuk :) Supaya lebih gampang, jadi banyakan yang ikut ya :)

Here we go.


1. Buat sebuah flashfiction dengan setting tempat di gudang rumah
2. Cerita tidak boleh lebih dari 500 kata.
3. Genre bebas
4. Judul bebas
5. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
6. Jangan lupa juga share ke twitter @MondayFF. :) 

Selamat berimajinasi, flashfictioners!

Saturday, 6 August 2016



Halo!

Ketemu lagi sama Reading Challenge! Adakah diantara kalian yang kangen bikin review? *kedip-kedip*

Oke, siap buat Reading Challenge Agustus 2016? Ini dia temanya!

Buku yang sudah lama kamu punya, tapi selalu tertunda dibaca


Banyak yang kayak gitu, kan? Ayo, ngaku! *tunjuk diri sendiri*

Dan ini dia cara buat ikutan Reading Challenge:

  • Tulis review di blog kamu
  • Review tidak mengandung SARA, pornografi, atau spoiler
  • Pilih buku yang belum pernah di-review di blog
  • Silakan setor link postingan review di kolom komen di bawah. Ingat, kolom komentar tidak boleh diisi selain URL postingan Reading Challenge ya, gaes
  • Format postingan: Nama - Judul Buku - link URL



Seperti biasa, silakan membuat review dengan menjawab pertanyaan berikut:
  1. Kesan yang kamu harapkan saat ingin membaca bukunya
  2. Dari beberapa buku yang tertunda dibaca itu, apa alasanmu memilih buku itu
  3. Intisari dari buku itu apa aja *NOTE: no spoiler ya
  4. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dari buku itu. Siapa aja, dan menurutmu, bagaimana karakter mereka
  5. Bagaimana alur ceritanya? Maju, mundur, atau maju mundur?
  6. Kamu greget nggak sama endingnya? Sesuai kah sama harapanmu?
  7. Apa manfaat yang kamu peroleh setelah membaca buku tersebut?
  8. Misal kamu ditakdirkan ketemu langsung sama sang penulis, apa yang ingin kamu sampaikan ke dia, berkaitan sama bukunya yany sudah kamu baca
  9. Terakhir, berapa ratingmu untuk bukunya?


Gampang, kan? Ingat ya, gaes, 31 Agustus 2016, pukul 23.59 WIB jadi deadline buat Reading Challenge bulan ini.

Akhir kata, selamat membaca! ;)

Thursday, 4 August 2016


Sketsa diambil dari Young Drawings



oleh Ruby Astari


“KUTU-KUTU HENDAK MENJADI KUPU-KUPU”
 
Aku tahu yang kau pikirkan saat melihatku. Ada kilatan dingin di mata itu. Aku cukup membacanya dari ekspresi gelimu.

Kamu merendahkanku. Bagimu, aku hanyalah satu dari kutu-kutu. Kamu yang kupu-kupu. Aku sedang mencoba menjadi sepertimu: satu dari kutu-kutu yang ingin menjadi kupu-kupu.

“Elo ke sini sama siapa?” tanyamu siang itu, yang rasanya seperti basa-basi palsu. Senyummu juga begitu. Aku sudah tahu.

“Sendirian,” jawabku jujur. Rasanya, aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada siapa pun, bahkan kamu yang siang itu tampak ramping dan gaya dengan gaun rancangan desainer terkenal. Aku hanya datang untuk memenuhi undangan seorang teman. Makan siang di restoran favoritnya bersama teman-teman kami…dan pasangan mereka bila ada yang punya.

“Oh.” Wajahmu tampak kaget. Perhatianmu terarah pada sekumpulan lelaki bule yang semeja dengan kita. “Kirain kamu datang dengan salah satu dari mereka.”

Kamu menganggukkan kepala ke arah Ant dan Paddy, kedua temanku. Ant sudah beruban, sementara Paddy gondrong dan brewokan dengan rambut coklat. Selain aku, keduanya juga datang tanpa pasangan.

Aku menggeleng. Natalia, teman baru di sampingku yang siang itu datang dengan Cole, pacarnya, tampak jengah. Kuduga perasaannya sama denganku akan hadirmu di hadapan kami. Apalagi begitu kamu kembali menatap kami berdua, kali ini dengan pandangan menilai yang sudah kentara sekali. Entah kenapa.

“Kamu sekantor juga sama mereka, kayak Vanya sama suaminya?” tanyamu lagi, meski entah hanya padaku atau juga Natalia. Begitu aku kembali mengangguk sambil tersenyum sopan, kamu melanjutkan: “Jadi sekretaris juga, kayak Vanya? Atau staf admin?”

Sekarang aku ingin tertawa. Bukannya mau merendahkan profesi tersebut, seperti yang sayangnya masih dilakukan banyak orang. Nada bicaramu juga menyiratkan demikian. Ibuku pensiunan sekretaris korporat dan beliau sosok luar biasa.

“Bukan, Maura.” Sekali lagi aku menggeleng, masih dengan kesopanan yang sama. “Aku pengajar juga. Natalia juga, cuma dia beda sekolah.”

“Kamu ngajar juga??” Aduh, wajahnya nggak usah kaget banget gitu deh, Mbak! pikirku, tambah geli sekaligus sedikit keki. Kamu bahkan juga bingung saat menatap Natalia. “Kamu juga?”

“Iya,” jawab Natalia halus. Akhirnya, kamu mati gaya juga. Sempat kamu bercerita cukup banyak – dengan mata berbinar-binar bangga – bahwa kamu baru datang dari New York ke Jakarta dengan suami bulemu, Sal. Kamu ingin berbisnis franchise tempat kursus dan sedang berusaha mencari tahu. Pertanyaan terakhirmu adalah:

“Kamu tahu nggak, gimana caranya?”

Lagi-lagi, aku dan Natalia sama-sama menggeleng. Akhirnya kamu menyerah. Kamu meninggalkan kami dan bergabung dengan para lelaki bule yang merokok, termasuk Sal, suamimu. Kulihat kamu hanya menggelendot manja pada lelaki bule bermata sayu dan berhidung mancung. Kamu juga ikut merokok.

Natalia dan aku saling berpandangan dengan geli, sebelum kembali mengobrol. Sesekali kuperhatikan pantulan diriku sendiri di cermin.

Hanya seorang gadis gemuk dengan wajah tanpa make-up dan pakaian semi-casual: jeans dan kaos. Tidak seperti perempuan lainnya siang itu di meja yang sama, tapi aku bukan kepompong…apalagi kutu.

Kupu-kupu? Ah, tak perlu. Bukan aku yang putus-asa ingin menjadi kupu-kupu. Aku tahu, aku lebih baik dari itu…

***
Komentar BangRig :

Damn, i like it!
Ada pesan positif yang sangat kuat disematkan penulis dalam cerita singkat ini :  Menghargai diri sendiri.

Oya, kirimkan nomor ponselmu lewat inbox Facebook Ariga Sanjaya, ya. Ada hadiah pulsa Rp25 ribu untuk cerita hebatmu. Salam.


Baca juga kisah-kisah lainnya, ya. 

1. Edmalia Rohmani - Kutu-kutu Hendak Menjadi Kupu-kupu
2. Glory Grant - Kutu-kutu Hendak Menjadi Kupu-kupu
3. Ruby Astari - Kutu-Kutu Hendak Menjadi Kupu-kupu
4. Rifky Jampang - Kutu-Kutu Hendak Menjadi Kupu-kupu


Monday, 1 August 2016

Halo!

Selamat Senin!
Siap untuk nge-prompt lagi?

Yukkk ~

Perhatikan gambar berikut ya!


1. Buat sebuah flashfiction berdasarkan gambar di atas
2. Gunakan PoV pertama si anak perempuan.
3. Cerita tidak boleh lebih dari 500 kata.
4. Genre bebas
5. Judul bebas
6. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
7. Jangan lupa juga share ke twitter @MondayFF. :) 

Selamat berimajinasi!

Monday, 25 July 2016

Hai, MFF-ers!
Gimana nih, sudah puas liburnya belum?
Harusnya sih sudah. Harusnya sudah kangen lagi sama prompter-prompter Monday Flashfiction.
Kalau belum ... itu mah ... ther la lu!

Anyway, untuk mengawali prompt kita pasca Lebaran, nih ada tantangan dari Papap kita semua, Momo DM.

Sketch taken from Young Drawings

Langsung saja ke ketentuan ceritanya ya, karena promptnya di sana.

1. Buat sebuah flashfiction dengan judul "Kutu-Kutu Hendak Menjadi Kupu-kupu". Kamu boleh menginterpretasikannya secara bebas ya. Boleh apa adanya, boleh kamu jadikan kiasan, boleh juga kamu jadikan surreal. Bebas deh, pokoknya :)
2. Cerita tidak boleh lebih dari 500 kata.
3. Genre bebas, kamu boleh menulis cerita surreal, cerita anak, fabel, romance ... anything!
4. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
5. Jangan lupa juga share ke twitter @MondayFF. :) 

Selamat bersenang-senang!

Thursday, 16 June 2016

oleh Zen Ashura

Bulan Ramadhan tak pernah semenyenangkan juga semembingungkan ini. Begitu menyenangkan sebab setelah bertahun-tahun bergelut dalam kemiskinan, akhirnya aku dan istriku mampu ber-shaum di dalam keadaan yang serba berkecukupan. Mau ini bisa, mau itu segera tersedia. Betapa nikmat buah hasil kerja keras kami kini terasa.

Teramat membingungkan karena, entah bagaimana caranya kumenjelaskan ini semua, istriku mulai berubah.

“Sampeyan ini kok ndak ngerti-ngerti sih, tole?”

Suara Ibu yang setengah gemas setengah geli terdengar dari ujung sana.

“Ngerti apa toh, Bu? Pusing Adam meladeninya,” keluhku pada ponsel yang menempel di pipi kanan.

“Ibu yang lama-lama pusing meladeni kepolosanmu, le. Sudah, ah! Ibu mau siap-siap dulu. Sampaikan salam dan terima kasih Ibu ke menantu kesayangan Ibu itu ya, le. Wassalamu’alaikum.”

Kujawab salam Ibu dengan setengah hati. Terang saja, belum sirna kegalauan ini, eh ditinggal begitu saja olehnya. Dan dalam kekalutan yang membuatku hampir depresi, kurasakan ponselku bergetar tanda masuknya sebuah pesan singkat

Dari Sita, istriku.

Mas, hari ini pulang cepat ya.

Masya Allah, akhirnya aku dirindukannya juga.

*

Ada satu hal sejak bertahun-tahun lalu yang sangat ingin kuberikan pada istriku, yaitu sop buah Pak Ewok. Sop buah yang terletak tak jauh dari kantor tempat kumengelola bisnisku itu entah sejak kapan kami idolakan.

Dulu, untuk membeli seporsi sop buah itu kami harus menyisihkan sebagian uang makan kami selama seminggu agar nanti di hari pertama kami berbuka puasa, kami dapat merasakan kemewahan yang tak bisa kami rasakan lagi selama dua sembilan hari sisanya. Yang sejatinya melulu teh manis hangat, atau sesekali ta’jil dari masjid terdekat.

Merasa kecil? Tentu tidak. Semua itu hanya membuat kami terbiasa berusaha sedikit lebih keras dibandingkan orang lain ketika kami menginginkan sesuatu.

Semangkuk kemewahan itu nantinya akan kami habiskan lamat-lamat, berusaha selama mungkin mengulur kenikmatan yang entah kapan bisa kami nikmati lagi.

Semangkuk sop buah itu juga bisa diartikan sebagai tanda cinta kami berdua.

Ia yang teramat menyukai melon, takkan menyentuh satu potong melon pun. Menurutnya, aku sebagai suami pantas mendapatkan yang terbaik. Dan melon lah tanda cintanya. Pun aku yang begitu menyukai apel, takkan menggugat sepotong apel pun agar ia dapat merasakan yang terbaik menurutku.

Sop buah itu adalah tanda cinta.

Dan kini, sop buah yang selalu jadi primadona kami itu, telah terhidang di hadapan kami berdua.

“Suka?”

Dengan penuh keenggan ia mengangguk, lalu samar-samar kudengar ia menghela napas, berat. Kupikir semua sudah kembali seperti sedia kala. Perubahannya… keanehannya… Namun kini jarak yang membentang di antara kami berdua semakin nyata. Jarak yang tak bisa disembuhkan bahkan oleh semangkuk sop buah tanda cinta.

“Kamu kenapa?”

Ragu-ragu, ia menyodorkan sebuah plastik pipih berbentuk persegi panjang dengan dua strip merah di salah satu ujungnya.

“Ka-kamu…?”

Tanpa berkata apa-apa ia kembali mengangguk.

“Alhamdulillah! Allahu Akbar! Sayang, kamu ngidam? Kamu mau apa? Bakso? Rendang? Melon? Apa saja yang kamu mau, pasti aku belikan,” seruku semringah, tak mampu membendung rasa bahagia.

Ternyata ‘ini’ toh yang membuat kamu bersikap aneh sejak berhari-hari lalu, istriku?

“Aku cuma ingin nanas, Mas. Yang banyak,” bisiknya getir, seraya tersenyum dingin.

*

Berdasarkan fiksimini karya Na Fatwaningrum Adianto:

BELUM INGIN. “Kamu ngidam apa? Bakso, rendang, manggis, apa saja yang kamu inginkan, pasti kubelikan,” sang suami sumringah. “Aku cuma ingin nanas, yang banyak ya!” Sita tersenyum dingin.

**
Baca juga karya teman lainnya, ya :)

1. Jampang - Perbedaan
2. Zen Ashura - Semangkuk Sop Buah Tanda Cinta
3. Nurkholil Setiawan - Sup Buah Favorit Kakak
oleh Eksak

"Biarpun kamu gendut, tapi tetep muat kok masuk di hatiku ... "

"Ohouais — Oh, ya?"

Pertama kali aku menemuimu di Champ de Mars, kawasan hijau nan luas di sebelah tenggara menara Eiffel. Tak payah, karena ukuran tubuhmu yang mencolok di antara lalu-lalang para pejalan kaki . Berawal dari sebuah telepon salah sambung yang kuterima beberapa bulan yang lalu. Suara khas manjamu membawaku pada bayangan sosok gadis yang cantik dan seksi. Tapi ternyata aku salah. Obrolan via telepon pun berlanjut pada sebuah pertemuan yang sudah direncanakan. Dan ... ya, ternyata aku salah.

Mungkin aku tak jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi pemikiran brilianmu dalam setiap obrolan yang kita lakukan telah membuatku mencintaimu sebelum bertemu. Tak peduli kata orang-orang yang menyebut kita bak angka sepuluh. Setiap manusia berhak untuk mencinta dan dicintai, bukan? Sedangkan cinta bagiku tak pernah memandang fisik seseorang, walaupun pada awalnya memang iya. Dan bagiku, kau begitu seksi dengan otakmu. Kau begitu cantik ...

" ... karena cantik itu ejaannya bukan K-U-R-U-S," katamu mengutip quote dari Ririe Bogar.

Aku memanggilmu "gendut", dan kau tak marah. Kau memanggilku kurus, kecil, kerdil, cebol atau apapun aku juga tak akan marah, karena aku telah jatuh cinta.

Sore ini kita sedang menyusuri jalan Champs-Élysées. Sambil menikmati lirikan orang-orang yang merasa aneh dengan pasangan unik ini. Berjalan ke arah timur menuju Arch de Triomphe. Rencananya aku akan melamarmu di gerbang kemenangan itu. Kotak merah berisi cincin telah kusiapkan di saku celanaku. Kita berjalan layaknya sepasang kekasih. Penuh senda-gurau dengan aroma mabuk cinta. Kadang kausenggol-senggolkan pantatmu yang besar ke tubuhku yang kecil.

"Ndut, kamu tau gak hubungan antara hukum gravitasi Newton dengan cinta?"

"Nggak ... "

"Gaya tarik gravitasi yang bekerja antara dua buah benda berbanding lurus dengan masing-masing massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak benda tersebut. Kesimpulannya bahwa semakin jauh jarak kedua benda maka gaya tarik gravitasi antar kedua benda tersebut akan semakin berkurang dan melemah. Sebaliknya jika jarak kedua benda tersebut semakin dekat maka gaya tarik gravitasi antara kedua benda tersebut akan semakin besar dan kuat."

"Seperti aku dan kamu, dong? Tiap hari makin dekat, pasti rasa cintamu juga semakin kuat?"

"Yups! Makanya aku gak mau kita berjauhan, Genduuuttt .... "

"Ah, kamu bisa aja."

Sunyi. Hanya ada suara tawamu yang perlahan mereda.

"Sayang, kamu di mana?"

"Gendut, aku jatuh ... "

"Jatuh cinta? Setelah sekian lama baru kaukatakan itu?"

"Aku benar-benar jatuh, Gendut! Kamu menyenggolku terlalu keras."

 **
Cerita romantis tak mesti disesaki kata-kata puitis. Diksi sederhana yang tepat pun bisa menyampaikan rasa. :)

 Baca juga karya teman lainnya, ya :)

1. Zen Ashura - Pertemuan
2. Eksak - Gendut, Aku Jatuh Cinta
3. Jampang - Perjumpaan Kembali

Monday, 13 June 2016

Hei, MFF-ers!
Apa kabar Senin pagimu?

Puasa pasti nggak membuatmu lesu, letih, lemah, lunglai kan?
Biar makin semangat, nih ada tantangan baru di Prompt Senin kita. Well, ini adalah prompt terakhir kita untuk sebelum puasa ya. Kemudian kita akan libur dulu, hingga nanti kita mulai tantangan baru lagi setelah libur Lebaran :)

Ini dia tantangan terakhir kamu.
Perhatikan gambar berikut ini.


Dan, ini ketentuan cerita kamu kali ini.

1. Buat sebuah flashfiction berdasarkan gambar di atas
2. Cerita tidak boleh lebih dari 500 kata.
3. Genre bebas
4. Judul bebas
5. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
6. Jangan lupa juga share ke twitter @MondayFF. :)

Selamat berimajinasi!

Sunday, 12 June 2016



Yaay! Ini dia 7 flashfiction dari FF100Kata #FFKamis yang diadakan tanggal 9 Juni 2016 dengan topik RENCANA.
Seperti yang sudah diinfokan, kali ini flashfiction terfavorit akan dihadiahkan sebuah buku berjudul RENCANA BESAR karya penulis Tsugaeda yang diberikan oleh @Unidzalika.

1. @p_ambangsari - 1...2...3...!Lariii!!
2. @okaholic - Rencana Besar
3. @mae_roseku - Berkah
4. @jakajunie - Rencana Besar Komandan
5. @jakajunie - Demi Engkau Bahagia
7. @RieenJ - Pulang

Dan inilah flashfiction terpilih yang mendapatkan buku keren tersebut :

1… 2… 3! Lariii!!
oleh : @p_ambangsari

Pada pertempuran, rencana hanyalah ide memulai peperangan. Yang terjadi merupakan bentuk improvisasi. Tak ada yang bisa memprediksi. Kecuali kemenangan adalah tujuan dibuatnya sebuah rencana.


“Hitungan ketiga!”

“1… 2… 3! Lariii!!” teriakan bergema, letusan memekakan telinga. Seluruh orang langsung bersiap di posisi.

“Blam!” Sambil menyelam minum air, sambil berlari dua tiga bom mereka lempari. Tak lelah keduanya berjuang mengalahkan tim pertahanan yang tersisa dua kalinya. Yang lainnya entah sudah tewas atau disandera.

Ketika hampir mencapai jantung pos, sirine mengakhiri paksa pertempuran. Seluruh partisipan berlarian pergi.

“Duluan!”

“Lanjutin besok!”

“Okee!” beberapa berlari ke arah ibu mereka yang menanti anaknya untuk berbuka bersama.

=========
Selamat @p_ambangsari!
@Unidzalika memilih cerita kamu sebagai pemenang karena menurutnya diksi yang ada di flashfiction ini rapi, alurnya bagus, dan endingnya manis.


Friday, 10 June 2016




Haiii..
ENggak perlu banyak basa-basi, inilah flashfiction yang masuk untuk #FFKamis tanggal 21 April 2016 dengan topik KEBAYA.
Untuk hari spesial ini, Miss janji akan memberikan hadiah kecil berupa pulsa sebesar Rp. 25.000 untuk flashfiction terfavorit.

1. @wisnuwidiarta - Kebaya Pertama
2. @irfansebs - Yang Hitam
3. @RiienJ - Kebaya Putih
4. @Rifki_Jampang - Kebaya Wisuda

Dan, ini dia flashfiction terpilih!
Selamat yaa..

KEBAYA PUTIH
oleh : @RiienJ


CUKUP! Hentikan! Aku tak sanggup lagi.

Lirihku yang berulangkali terhempas ke lantai dengan keras. Benda runcing nan tajam yang digenggamnya  pun semakin menggila, menghujam, mencabik-cabik tanpa ampun.

"BERENGSEK! SIALAN! Akan kubunuh kau!''

Teriaknya dengan tumpahan air mata yang membanjiriku. Sayatan benda itu semakin meliuk-liuk tak beraturan. Benang-benang yang tersusun rapih berceceran menjadi helaian kecil bahkan tak berbentuk.

Aku kesal. Tak seharusnya ikut menanggung sakit yang kauterima hanya karena tak jadi kawin.

"Kaubilang ingin meminangku. Tapi, mana? Kau bahkan tak datang. Aku pasti membunuhmu. Tunggu saja! Kau akan hancur seperti kebaya putih yang kaupilihkan ini.''

Kilatan tajam di matanya tanpa keraguan.


=========

Oke, kenapa flashfiction ini yang dipilih? Karena hanya FF ini yang memiliki twist oke dibandingkan dengan 3 yang lainnya. 

Monday, 6 June 2016


Image via The Astronaut[dot]com



oleh Glowing Grant


Kalian tahu bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian selama bertahun-tahun? Tinggal dalam kesunyian… Tiada seorangpun yang ingin bersamamu untuk waktu yang lama… Dan yang terparah, ditinggalkan dalam keadaan terluka, luka yang membuat batinmu terkoyak dan tercabik-cabik. Sungguh menyakitkan rasanya!

Kuharap ada seseorang yang datang walau hanya sekadar menyapa. Namun… Jika dipikir-pikir lagi, lebih baik jika para tamu yang lewat itu tinggal untuk beberapa saat. Akan kuajak mereka bercengkerama walau hanya beberapa menit. Bukankah berbagi cerita dan pengalaman itu sangat menyenangkan?

Lalu… tibalah hari itu, hari di mana ada seseorang lewat depan rumahku. Pemuda itu mengenakan pakaian safari. Ia membawa senapan dan karung di pundaknya. Wajahnya Nampak lelah tapi tak mengurangi ketampanannya. Nampaknya ia adalah pemburu.

Pemuda itu melihat sumur di tengah hutan ini bagaikan melihat harta karun. Matanya berbinar-binar tatkala melihat sebuah ember usang di dekat sumur itu. Ember bertali panjang itu dimasukkannya ke dalam sumur untuk mengambil air. Namun sayangnya tali pengikat ember itu putus saat ember dilempar ke dalam sumur.

“Sepertinya Anda sedang kehausan, ya,” sapaku pada pemuda itu.

“Hah!” ia terlompat karena terkejut mendengar sapaanku yang tiba-tiba.

“Wah, maaf aku mengejutkan Anda. Aku kebetulan melihat Anda sedang melempar ember ke dalam sumur itu, jadi kusapa saja,” jawabku.

“Oh, iya. Kupikir bisa mengambil air yang ada di dalam sumur ini. Tapi tali pengikat embernya putus.”

“Jika Anda tidak keberatan, mari mampir ke rumahku. Rumahku tak jauh dari sini. Akan kuberikan beberapa gelas air dan sedikit penganan untuk bekal Anda di perjalanan.”

“Eh, nggak usah repot-repot.”

Detik berikutnya, pemuda itu berhasil kubujuk untuk mampir ke rumahku. Ia kupersilakan duduk di ruang tamu begitu kami tiba. Lalu, kuambilkan segelas air dan satu kendi berisi air. Tak lupa beberapa potong kue kumasukkan ke dalam plastik untuk bekal si pemuda itu nanti seperti yang sudah kujanjikan.

“Terima kasih, mbak,” kata si pemuda padaku setelah menerima air dan kue dariku.

“Sama-sama,” jawabku. “Di luar sudah gelap. Sebaiknya Anda berhati-hati di perjalanan,” lanjutku.

Pemuda itu menganggukkan kepalanya kemudian permisi pulang. Pulang… Ia pulang begitu saja setelah menerima pemberian dariku. Tak ada basa-basi menanyakan kenapa aku tinggal di sini, dengan siapa aku tinggal, atau bagaimana caranya aku mendapatkan semua barang di rumah ini. Ia pergi begitu saja.

Aku memandangi punggung pemuda yang kian menjauh itu. Ia pergi! Sungguh aku tak rela melepaskannya! Tak akan kubiarkan ia pergi begitu saja!

Aku berlari mengejar pemuda itu. Saat aku berada di dekatnya, kuraih lengannya, menahannya dengan segenap kekuatanku. Lalu, dengan satu hentakan kubalikkan badannya agar menghadap padaku.

“Aku takkan membiarkan seorangpun meninggalkanku lagi,” seruku sambil memegangi leher pemuda itu, membuatnya sesak napas lalu melemparkannya ke dalam sumur tua tadi hingga ia menghembuskan napas terakhirnya – sebuah cara yang dulu dilakukan para penjahat terhadapku, saat aku masih hidup dulu.

Beberapa menit kemudian, roh pemuda itu melayang keluar dari dalam sumur. Aku menyambut roh yang masih linglung itu dengan penuh suka cita. Dan, petualangan baruku pun dimulai…

***

Baca juga karya lainnya, ya. :)

1. Glowing Grant - Jangan Pergi Dariku
2. Zen Ashura - Perempuan yang Melayang di Atas Sumur
3. Uni Dzalika - Ambisi
4. Junior Ranger - Cerita Orangtua tentang Sumur Tua
5. Ruby Astari - Willa
6. Rifki Jampang - Senyum Ibu

sketsa oleh Carolina Ratri

oleh Nana Ezha

Perempuan adalah kemisteriusan. Katanya mereka tercipta dari tulang rusuk pria, pakai bim salabim, abra kadabra atau kun fayakun?

Aku masih belum paham. Andai saja perempuan diciptakan dari hati, mungkin pria takkan serumit ini untuk menyelami jiwanya. Dengan begitu, kaum Adam pun akan berhati-hati untuk menyakiti hati mereka.

“Ini gila!”

Perempuan itu membanting koran pagi yang dia baca. Berita tentang kasus pelecehan seksual dan pembunuhan seorang belia. Pagi yang dipenuhi dengan ocehan, sedang aku hanyalah pendengar setia.

Entah dia tercipta dari tulang rusuk, hati, atau pun otak lelaki, tetap saja jiwanya takkan terselami, pemikirannya tak mampu kubaca. Aku selalu menjadi orang paling dungu di depan kaum perempuan.

“Selamat pagi, Annora.”

Dia terdiam, masih memberengut kesal pada berita itu. Kuhidangkan secangkir kopi yang masih mengepul dengan dua helai roti. Sarapan sederhana yang bisa kubuat. Andai dia menyadari, kurang apa lagi pengorbananku?

Pernah suatu hari, dia basah kuyup dan kedinginan di jalanan. Kubalutkan jaket untuk menghangatkan tubuhnya. Esoknya, aku sakit berhari-hari, tak apa, asal jangan dia—wanita yang kucintai. Setelah kehilangan cinta pertamanya, dia begitu lemah dan terpuruk. Melupakan segala hal dalam hidupnya. Bagaimana bisa dia lupa padaku? Sementara, aku yang rela terluka untuknya.

Annora, aku sakit jika melihatmu menangis.

“Bri ...,” panggilnya. Tatapannya tiba-tiba meneduh. Ada sesuatu yang terasa janggal pagi ini. Lantas, dia menyodorkan bungkusan kecil dari balik punggungnya. Entah kapan dia menyembunyikannya di sana, luput dari penglihatanku.

“Selamat ulang tahun, Brian,” ucapnya membuatku terperanjat.

“Thank’s, Annora.”

“Panggil aku ibu, Bri!” bentaknya.

Oh, pagi ini dia kembali. Ada gurat bahagia di wajahnya, seperti sebuah rasa yang meletup-letup dari dasar hatiku. Hidupku adalah permainan, jika sekarang menjadi teman, bisa jadi esok keluarga, bahkan orang asing.

Terima kasih, hari ini kau hadir sebagai ibu, entah esok hari. Bisakah kau mengingatku sebagai anakmu tiap hari? Meski hari ini bukan hari lahirku.

***

Awal membaca kisah ini aku tertarik dengan keluwesan penulis menggunakan kata-kata berima. Meski saat itu sedikit berkerut dahi mencoba menangkap maksud yang ingin disampaikan. Lalu ketika pemahaman itu datang, barulah terasa di balik sederhananya kata ada kedalaman makna. Bahwa barangkali dalam kerumitan seorang perempuan ada andil pria di dalamnya.

Karya yang bernas, Nana!


Baca juga kisah-kisah lainnya, ya. :)

1. ChocoVanilla - Perempuan! Perempuan!
2. Yossi Yaumil Rachman - Rumit
3. Nanae Zha - Annora yang Terluka
4. WidaAya - Ada Apa dengan Dinda
5. Edmalia Rohmani - Perempuan di Suatu Malam
6. Rifki Jampang - Lidah Perempuan
7. OK Yunbi - Tiga Enam Puluh
8. Ruby Astari - Rambut Pendek Jane
9. Fajar Rahmad Hidayat - VENUS
10. Glowing Grant - Apa Adanya
Hai, semua :)

Pertama, seluruh admin Monday Flashfiction mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga lancar sampai Lebaran nanti ya :)
Berkah Ramadan selalu menyertai.
Amin.

Nah, barangkali prompt kita hanya sampai minggu depan aja dulu ya, Gaes. Selanjutnya kita akan libur dulu sampai setelah Lebaran ya. Selain supaya lebih fokus pada ibadah, kita juga supaya lebih fresh aja lagi, hopefully, setelah liburan nanti ya. Biar kamu-kamu pada kangen gitu. Hehehe.

Untuk kali ini kita akan bikin flashfiction yang agak berbeda ya.
Perhatikan gambar di bawah ini.

Sumber: resepmasakanta.blogspot.com

Wuahhh ... Nyammm!
Ssst. Lagi puasa!
Yuk, kita bikin ceritanya aja!

Ketentuan cerita:


1. Buat sebuah flashfiction berdasarkan gambar di atas
2. Cerita tidak boleh lebih dari 500 kata.
3. Genre Food Story
4. Judul bebas
5. Link postingan silakan disetor melalui kolom komen di bawah ini. Kolom komen tidak boleh diisi selain URL postingan flashfiction ya!
6. Jangan lupa juga share ke twitter @MondayFF. :)


Happy writing!

Sunday, 5 June 2016

Oleh: Carolina Ratri




Stephen King barangkali adalah satu-satunya penulis yang paling produktif dan sukses secara komersial di 50 tahun terakhir, Gaes.

Gimana enggak? Dia sudah menulis lebih dari 70 buku horor, fiksi ilmiah, dan fantasi. Dan tahu nggak, rekor penjualannya? Barangkali ada tuh, total penjualan buku-bukunya di angka 300 hingga 350 juta eksemplar di seluruh dunia.

Wew!

Sekitar enam belas tahun yang lalu, Stephen King pernah menuliskan semua hal yang dia tahu tentang teknik menulis dalam sebuah buku, yang yah bisa ditebaklah yah, yang langsung menjadi buku terlaris. Judulnya On Writing: A Memoir of the Craft. Buku tersebut langsung deh menjadi buku ‘kitab suci’ bagi para penulis yang ingin mengikuti jejaknya.

Nah, buat kamu, MFF-ers, berikut ini adalah terjemahan secara bebas 7 strategi menulis ala Stephen King yang ditulisnya dalam buku tersebut, yang siapa tahu bisa juga membantumu untuk mengembangkan diri dalam hal menulis. (Barangkali kamu pengin juga menulis buku yang terjual 350 juta kopi. Iya kan?)

1. Jujur


“Saat akan menulis, tanyakan pada dirimu sendiri, apa sih yang ingin kamu tulis? Dan kemudian, jawablah dengan jujur, apa saja yang ingin kamu tulis. Tulislah mengenai sesuatu yang kamu suka, yang menginspirasimu, yang unik, lalu padukan dengan pengalaman pribadimu. Bisa saja berupa persahabatan, pekerjaan, cinta hingga ke masalah seksual.
Kamu itu unik, dan tuangkanlah keunikanmu dalam tulisan. Jujurlah pada dirimu sendiri, dan beranilah untuk mengungkapkannya.”

2. Tepat memilih diksi


“Salah satu kesalahan terbesar para penulis adalah sibuk mencari kosa kata yang berbunga-bunga, kalimat-kalimat yang panjang, karena kalimat yang pendek dan simpel mereka remehkan. Padahal bukan kita sendiri yang akan membaca tulisan tersebut kan? Ada banyak orang lain yang akan membacanya. Dan nggak semua orang bisa mencerna kata-kata nyastra yang kamu gunakan. Jika kamu ingin menjual bukumu lebih banyak, gunakan bahasa yang sederhana. Agar mereka lebih mengerti apa yang kamu ceritakan.”

3. Tulis untuk pembacamu yang paling ideal


“Setiap penulis seharusnya membuat profil persona pembacanya. Berapa umurnya, bagaimana karakternya, apa kesukaannya, dan seterusnya, dan kemudian menghadirkannya di depan kamu untuk kemudian kamu ceritakan kisah padanya.
Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang kamu ingin dia pikirkan saat dia membaca bagian-bagian tertentu dalam kisah yang sedang kamu ceritakan itu. Saat ada pembunuhan, kamu ingin dia merasakan apa? Saat ada yang jatuh cinta, apa yang seharusnya dia rasakan?
Bagi saya, pembaca pertama ideal saya adalah Tabitha, istri saya. Maka saya menghadirkannya dalam benak saya, setiap kali saya menulis. Saya ingin bercerita mengenai apa saja pada dirinya? Dan itulah, yang saya tulis kemudian.
Temukan satu pembaca idealmu, dan hadirkan dia setiap kali kamu menulis.”

4. Banyak-banyaklah membaca


"Bacaan merupakan pusatnya kreativitas penulis. Saya selalu membawa satu buku ke mana pun saya pergi. Saya juga bisa membaca di mana pun. Saya akan selalu menciptakan waktu untuk membaca, bukan hanya meluangkan waktu saja. Ya, saya membaca bukan hanya di waktu luang atau waktu yang tersisa.”

5. One word at a time


"Dalam sebuah wawancara (sepertinya saat mempromosikan Carrie), host acara talk show di sebuah radio bertanya pada saya, bagaimana cara saya menulis. Saya jawab, 'Satu kata pada satu waktu’. Si host tersebut kemudian terdiam mendengar jawaban saya. Mungkin dia kira saya bercanda. Tapi enggak, saya nggak lagi bercanda. Memang semuanya berawal dari hal yang sesederhana itu.  One word at a time.

6. Menulislah setiap hari


"Yang benar adalah bahwa ketika saya menulis, saya menulis setiap hari. Saya bahkan juga melakukannya di hari libur. Saat liburan Natal, atau liburan Thanksgiving, bahkan di hari ulang tahun saya. Saat saya mulai menulis, rasanya saya sedang memasuki taman bermain impian saya. Dan tanpa terasa, saya sudah menghabiskan waktu 3 jam di dalamnya. Apa pun hasilnya, saya tak begitu peduli.”

7. Menulislah dengan penuh kebahagiaan


“Boleh percaya atau tidak, saya hampir tak pernah memikirkan mengenai uang yang saya dapat saat saya mulai menulis. Ya, saya memang harus membayar ini itu, ada banyak tagihan dan juga ada anak-anak yang sedang bertumbuh. Tapi hal-hal tersebut tak pernah saya pikirkan saat saya sedang menulis.
Hanya ada rasa kebahagiaan yang hadir di hati dan pikiran saya. Saat kamu melakukan hal yang selalu menyenangkanmu, bukankah kamu nggak akan ingin berhenti?”



Oh, wow! Ternyata sederhana banget ya, strategi seorang Stephen King untuk bisa menulis buku-buku yang terjual 350 juta kopi di seluruh dunia. Haha. So, di poin nomor berapa nih, yang belum kamu lakukan, Gaes?

Kayaknya emang mudah dan simpel ya? Tapi kok ya, barangkali ada beberapa hal yang susah juga buat kita lakukan. Yah, jadi kembali ke diri masing-masing deh.

Semoga tips-tips di atas bisa menyemangatimu untuk lebih maju ya!