Sunday, 26 May 2013

Flash Fiction Itu Apa?


credit

Sudah sejauh ini, sekitar 4 bulanan ya, kami baru membahas apa itu flashfiction (ff). Well, memang sejak awal kita pernah membahasnya, tapi hanya sekadar sharing lewat komen-komen di fb aja. Ada yang bilang ff itu cerita singkat kurang dari 1000 kata, ada yang bilang jumlah katanya ga lebih dari 500. Malah ada lagi yang bilang harus di bawah 500, atau pas 250, 200, 100. Duh! Bingung, ya? Kayak lagi nawar aja, deh! :p

Pada tulisan ini, saya dan teman-teman admin lainnya (Carra dan Latree) mencoba merumuskan apa itu ff. Seperti kata mbak Latree pada tulisannya kemarin, teori dibuat bisa saja berdasarkan praktik. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang selama ini penasaran atau bahkan belum mengerti apa itu ff.

Flashfiction adalah model cerita cepat yang disajikan singkat, padat, dan memiliki akhir cerita yang dipelintir, atau bahasa kerennya adalah twisted ending. Sebuah ff bisa dibaca habis (selesai) hanya dalam waktu kurang dari lima menit, biasanya selesai dibaca dengan sepuntungan rokok aja. Singkat, kan?

Dalam grup ini, MFF, kami membatasi jumlah kata dalam ff yaitu maksimal 500 aja. Lebih sedikit, lebih padat, lebih bagus. Susah? Tentu nggak! Malah, jika kita udah terbiasa baca dan menulis ff, maka ketika kita baca atau menulis sebuah cerpen itu rasanya lama dan panjang sekali.

Unsur dalam FF

Wah, apa lagi ini unsur ff? Sebenarnya nggak ada aturan baku apa aja unsur-unsur dalam sebuah ff. Lagi, kami hanya merumuskan dari ff yag pernah dibuat dan dibaca. Jadi, dalam sebuah ff itu ada beberapa tahapan yang berbeda dari cerita fiksi lainnya. Jika sebuah fiksi punya tahapan perkenalan, konflik, klimaks, anti-klimaks, penyelesaian, maka dalam ff hanya ada konflik dan klimaks. Itu aja? Iya.

Karena sebuah ff itu biasanya ga pernah dimulai dengan perkenalan dalam cerpen, atau novel. Nggak ada ngenalin tokoh utama, tokoh kedua, dll. FF biasanya dimulai dengan konflik cerita. Dan, nggak ada juga sampiran-sampiran.

Sesuai dengan pengertiannya, unsur dalam ff yaitu singkat, padat, dan twisted ending. Cerita nggak bertele-tele. FF beda dengan cerpen apalagi novel. Jika dalam cerpen kita terbiasa menceritakan apa yang dilihat atau dirasakan tokoh utama, maka dalam FF hanya menceritakan hal detil yang penting untuk mendukung ceritanya aja. Ya, harus yang penting-pentingnya aja karena FF ini juga padat.

Contoh tulisan:
Aku langsung berlari menuju kamar Putri, anak semata wayang majikanku yang telah meninggal sepuluh tahun lalu karena kecelakaan. Ia meninggal sesaat setelah tertabrak truk yang menghantamnya ketika tengah menyeberang jalan raya pasar.
Aku bergidik. Kubuka pintu kamarnya perlahan, dengan berhati-hati dan telinga memasang tajam pendengaran. Dadaku berdebar kencang tak karuan. Aku takut.

Bandingkan dengan yang ini:
Aku berlari menuju kamar mendiang Putri, anak majikanku. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Merinding. Kubuka pintu perlahan dan berhati-hati. Dadaku berdebar cepat. Tanganku keringatan dan dingin. Aku panik.

Selain nggak penting, sampiran juga akan menghabiskan 'jatah' kata dalam cerita. Sampiran akan membuat cerita semakin bertele-tele, nggak padat, dan nggak to the point.

Nah, yang nggak kalah pentingnya dari singkat dan padat adalah, twisted ending. Apa sebenarnya twisted ending itu? Ialah akhir cerita yang dipelintir, atau diputar. Biasanya, ketika kita membaca sebuah FF, kita jadi penasaran dengan endingnya, dan akan terkejut atau bahkan tertipu dengan endingnya.

Misal sedari awal penulis menceritakan tentang tokoh utama yang mengamen di jalanan, kemudian terjadi konflik ketika ia dikejar-kejar polisi lalu-lintas. Mungkin kita sebagai pembaca akan berpikir bahwa si pengamen telah melanggar aturan sehingga dikejar polisi. Namun di akhir cerita ditulis bahwa ternyata si polisi adalah ayah si pengamen yang berdandan seperti wanita.

Show don't Tell

Sebenarnya udah banyak link yang kita share di dalam grup tentang unsur Show Don't Tell ini. Tapi kami akan coba mengutip dari Buku Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu oleh Winna Efendi ya. Menurut beliau, Show Don't Tell ini adalah aturan terpenting dalam mendeskripsikan karakter. Perhatikan contoh berikut:

Ryan adalah pria metroseksual, berusia dua puluh tiga tahun, bekerja di sebuah perusahaan advertising. Tapi yang membuat saldo di banknya membengkak adalah orang tuanya - yang konon adalah salah satu pengusaha terkaya di Asia versi majalan Forbes. Hubungan mereka tidak terlalu harmonis.
Bandingkan dengan yang berikut:

Ryan masuk ke dalam penthousenya. Dilemparkannya kunci apartemen ke dalam vas kristal yang terletak di atas console di samping pintu masuk. Diambilnya remote. Sejenak kemudian lampu di dalam apartemen mewah itu menyala. Meetingnya siang ini dengan seorang client representative dari sebuah brand produk kecantikan yang besar menyisakan sakit kepala. Tapi dia sadar betul, bahwa pekerjaannya itu tak seberapa. Tak akan mungkin mampu memberikan semua kemewahan ini padanya. Tiba-tiba suara penyiar berita di TV yang menyala bersamaan dengan lampu apartemen menarik perhatiannya. Tampaknya, lagi-lagi, ayahnya masuk ke dalam daftar orang terkaya di Asia di majalan Forbes. Si penyiar berita dengan semangat menceritakan profil ayahnya, dengan membubuhkan sedikit informasi yang tak begitu penting di sana sini. Ryan mendengus, dan lalu merasakan selera makannya tiba-tiba saja hilang.
Contoh pertama adalah deskripsi yang bersifat "memberitahu" atau "telling", sedangkan contoh kedua adalah "menunjukkan" atau "showing". Kuncinya, pilih detail-detail yang menarik dan menunjang cerita.

Lalu, gimana dengan pemakaian bahasa asing atau daerah?

Sah-sah aja, boleh banget malah. Tapi, tetap dengan tidak melupakan unsur-unsur di atas tadi. Pakailah bahasa daerah atau asing sebatas yang populer aja. Kalau terlalu banyak, atau malah semua dialognya menggunakan bahasa daerah tertentu, yang ada pembaca malah males nerusin. Okelah settingnya berlatar di sebuah desa di Medan, misal. Lantas, kita nggak perlu menuliskan semua dialognya dengan Bahasa Batak, kan? Lagipula, sebagai pembaca yang bersuku Jawa misal, enakan mana disuruh baca cerita yang semua dialognya berbahasa Batak meski ada keterangan di bawahnya, atau membaca cerita betbahasa Indonesia dengan sedikit penekanan logat Batak pada dialognya?

Nah, sudah makin ngerti kan sekarang dengan penjelasan apa itu ff? Yuk, ah, kita buat ceritanya! Di MFF, setiap Senin diberikan prompt (pemancing) baru untuk dikembangkan menjadi cerita ff. Berani terima tantangan? :)

6 comments:

  1. kereenn thanks ;)

    ReplyDelete
  2. Yeaayyy... belajar lagiii.... :)

    ReplyDelete
  3. Terimakasih ya infonya, sangat bermanfaat:) Saya jd pengen belajar bkin Flashfiction :D

    ReplyDelete
  4. ngerti aku sekarang.. makasih infonya, blog yg sangat bermanfaat :)

    ReplyDelete

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *