Saturday, 14 March 2015

Bahas Karya - Obrolan Warung Kopi

Hay balik lagi sama Ajen di Bahas karyaa...
Kali ini kita akan bahas karya Mas Lukman Hambali.

---



FF-Obrolan Warung Kopi 
Oleh: Lukman Hambali

“Sebuah karya seni” kata pemuda gondrong.

“Sebuah lambang kejantanan” kata lelaki yang lain.

“Lambang seorang narapidana” kata pria berkopiah putih.

“Kalian tahu bahwa zaman dahulu digunakan sebagai tanda seorang budak” kata pria berkacamata, mungkin mahasiswa.

“Sebuah lambang strata sosial, kemarin saya baru pulang dari Bali dan lihat ini, ini namanya tribal!” kata pria berkacamata hitam dengan lantang sambil menunjuk sebuah gambar di lengan kanannya yang tanpa otot melainkan hanya timbunan lemak.

 “Sebuah tanda cinta” kataku dengan menerawang jauh saat jenazah ayahku di temukan bersama tumpukan abu pabrik yang terbakar, tak bisa dikenali, kecuali tato yang tertulis namaku dan nama ibuku di dadanya.

----

Point yang akan kita bahas 

1. Beginning
Apakah beginning membuat kamu tertarik untuk membaca FF ini? Apakah beginning sudah memberi gambaran konflik?

2. Konflik
Apakah sebab konflik dalam FF ini? Apakah akibat konflik dari FF ini? Bagaimana penyelesaian konfliknya? Apakah FF ini membuatmu mengernyitkan dahimu karena ada yang bolong? Apakah yang bolong itu? Apakah twist FF ini berkesan di hatimu?

3. Plot
Apakah plot FF ini berjalan mulus? Bagaimana dengan plot twist? Apakah ada kesenimbangun antara plot twist dan adegan FF

4. Setting
Apakah kamu bisa mengetahui dengan baik di mana settingnya? Apakah kamu terganggu dengan background yang bertele-tele?

5. Karakterasasi
Bagaimana emosi tokoh dalam cerita? Bisakah kamu menangkap watak tokoh? Bagaimana hubungan emosi antara tokoh?

6. Dialog
Bagaimana dialog yang digunakan? Apakah dialog membangun cerita?

7. Pov
Pov apakah yang digunakan? Adakah tidak konsistensi POV 


Komentar-komentar

1. Carolina Ratri
Yang kedetect pertama kali adalah pemakaian tanda baca yang harus diperhatikan lagi. Hmmm. Aku mau coba remake lagi ah nanti kalau sempat.

2. Junioranger All
Datar

3. Vanda Kemala
Aku kok nggak paham ini bahas apaan

4. Indah Kanaya
Mulai kalimat pertama udah kelilipan sama tanda baca yang kurang.
Beginning: lumayan bikin tertarik Konflik : gak ada konflik
Plot twist: bolehlah tapi memang kalau terbakar gitu tato masih bisa terlihat ya?
Setting: jelas tau, udah terbaca di judul.

5. Widiarsa Wuwie
Aku kok bingung ya, maksud dari ceritanya mau dibawa ke mana.

6. Dwi Puspita Ningrum 
Mau nanya, untuk FF apakah ending harus selalu berbentuk twist?

- Ajen Angelina
Karena FF itu singkat Mbak Dwi. Kebayang dehh baca cerita yang singkat dan endingnya datar abis. I mean itu emang keunikannya dia. Singkat tapi membekas. Twist bikin FF luas.

7. ChocoVanilla 
Baca dua kali baru tahu kalau mbahas tato. Kurang greget dikiiiiiittt ...

8.  Isti'adzah Rohyati
Sama kayak Mak Carolina Ratri. Yang bikin geregetan dan gatel mata adalah tanda bacanya. Ish, gemeeesssshhhhh!!!

9. Isyia Ayu
Oh, mbahas tato toh... Hehe.. 

10. Dian Farida Ismyama
Sama kayak mbak Vanda Kemala , aku bingung bahas apa. Hmm, dari judul benernya aku teringat salah satu cerpen Kompas, ada nih yg pakai setting di warkop, khas banget jadinya malah inget cerpen itu. Sama inget cerpennya Puthut E.A juga. Warkop memang setting yang khas laki-laki.
1. Beginning bikin penasaran sih.
2. Konflik kurang, hampir nggak ada. Kalau ada pun terburu-buru di ending.
3.Plot terasa patah, padahal sebenarnya nggak juga. Mungkin karena terlalu banyak tokoh dalam FF sesingkat ini.
4. Setting udah kubahas di awal. Setting sebenarnya khas banget.
5. Karakterisasi, terlalu banyak tokoh, meskipun karakternya cukup jelas tergambar dari apa yang diucapkannya. Emosi antar tokoh hampir nggak ada, bahkan mereka nggak saling kenal, kan? :)
6. Dialog, tanda baca berantakan. Sebenarnya dialognya lugas menurutku.
7. POV orang pertama, aku. Hmm ga masalah sih, tapi kayaknya dibikin pov 3 juga bisa nih.

11. Anindita Hendra Puspitasari
Aku coba kasih komentar yaaa.
1. Beginning Dialog yang mengawali FF ini lumayan bikin penasaran.
2. Konflik FF ini dibangun dengan dialog demi dialog. Mungkin penulis bermaksud menciptakan perdebatan sebagai konflik? Tapi ada yang miss menurutku. Nggak ada petunjuk tentang apa yang menyebabkan perdebatan itu. Kalau memang tato, tato siapa? Bagaimana awalnya kok bisa ngomongin tato?
3. Plot Balik lagi ke penyebab orang-orang ini ngomongin tato. Nggak ada petunjuk. Plotnya jadi agak berantakan.
4. Setting Setting sudah tertera di judul. Jadi otomatis bisa membayangkan bagaimana suasananya, meski setelah masuk ke FF, nggak ada petunjuk sedikit pun tentang warung kopi.
5. Karakterisasi Untuk FF sesingkat ini, tokohnya terlalu banyak. Emosi tiap tokohnya pun terasa datar. Padahal jika memang ingin membuat sebuah perdebatan, seharusnya bisa lebih seru dari ini.
6. Dialog Dialognya datar.
7. Pov Konsisten di POV 1.
Selain itu, EYD masih butuh diperbaiki.

12. Ajen Angelina
1. Beginning
FF ini dibuka dengan dialog.. Yang membuat pembaca mengira si Gondrong sedang
berada di sebuah museum atau apa. Lumayan membuat tertarik untuk membaca seterusnyaa...
2. Konflik
Konflik FF ini sih tentang anak yang merindukan ayahnya. Oke sederhena sih kisah tentang segerombolan orang yang membicarakan tato? Namunn kemudiann mengapa orang-orang itu berbicara tato juga masih gamplang. Aku merasa ini adalah FF jenis simbolis. Tato bisa dikatakan sebagai sesuatu yang masih tabu di masyarakat.. Penulis berusaha mengangkat fenomena itu dan mengemukan beberapa orang dari berbagai latar belakang. Dari pihak yang pro mengatakan itu seni dan lambang kejantanan. Dari pihak agamais mengatakan itu adalah lambang kejahatan. Dari pihak akademis (mahasiswa) mengatakan tato asal-usulnya adalah tanda perbudakan. Dari pengguna tato itu sendiri tato adalah lambang kebanggaan. Tato di sini bisa merepresentasikan hal "negatif" yang berkembang dalam sebuah masyafarakat. Pemakaian rok mini, fenomena jilboobs dan lain-lain. Selalu ada pihak yg setuju, pihak yang menyela dan pihak yang mencoba mengkaji dari sisi filosofis atau asal mulanya. FF yang bagus, hanya sayangnya kita harus membaca saksama untuk mengerti. Padahal FF sebagaimana tulisan yang lain dibuat untuk menghibur. Terlalu rumit akan membuat pembaca mengerutkan dahi. Kita baca fiksi buat rileks kan? Nah... Menurut saya, FFini terlalu luas. Ingat FF adalah tulisan yg memiliki satu konflik dan yang satu ini terlalu banyak konflik di dalamnya. Mungkin penulis berniat membuatnya dalam bentuk cerpen.
3. Plot
Saya bingung bagaimana memploting FF ini saya membayangkan sebenarnya dialog-dialog antar tokoh adalah dialog imajiner. Si aku berada di satu masa dia kangen sama ayahnya. Di la hanya mengenang si ayahnya yang punya tato namanya. Dari sini muncul pikiran soal kontroversi tato dan jadilah dialog itu. Twistnya okay cuma setahu aku kalau kebakar kulit kita akan hangus. Gak dijelaskan juga sih terbakar seperti apa. 
4. Karakter...
Karakternya tidak dijelaskan.
5. Setting saya membayangkan ini terjadi di sebuah warung kopi imajiner.
6. Dialog
Dialognya membangun cerita.
7. Pov
Pov satu.

Tanggapan dari  Lukman Hambali 
Sudah boleh komen ya? Terima kasih semua atas masukannya. Tulisan di atas FF100Kata dengan tema "Tato". Masih banyak kurangnya terlebih lagi tanda baca--kemaren asik aja googling tentang tanda baca yg benar--jadi tau salahnya di mana. Thanks to you guys...:)) BTW jika saya kembangkan lagi jadi cerpen boleh kan dikritik lagi?   

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *