Sunday, 8 March 2015

Resume The Historical Stage - Memilin dalam Balutan Sejarah





Dirangkum oleh: Indah Lestari

Pada babak ini tantangan makin kelihatan tingkat kesulitannya. Babak History, sesuai namanya, mengangkat peristiwa sejarah menjadi dasar cerita yang dibuat oleh para peserta –The Big 8 : Putri Widi Saraswati, Rinrin Indrianie, Isti'adzah Rohyati, Anastasye Natanel, Dian Farida Ismyama, Edmalia Rohmani, Anindita Hendra Puspitasari dan Andi Eksak.

Entah karena tema yang terlalu rumit dan sulit atau pilihan sejarah yang kurang menarik, ada sedikit penurunan dari hasil penilaian dewan juri. Namun yang pasti dewan juri, host dan semua pendukung MFF Idol 2 mengapresiasi karya para peserta yang luar biasa.

Seperti biasa, pada babak ini pun ada juri tamu yang akan membantu dewan juri memberi penilaian pada karya para peserta. Kali ini juri tamunya adalah Aditia Yudis, seorang penulis yang sudah banyak menelurkan karya di antaranya : Mendamba, Reasons, Once Upon a Love, Mendekap Rasa, Biru pada Januari, Bitter Sweet Love, Singgah, The Coffee Shop Chronicles dan 7 Misi Rahasia Shopie.

Result Show
•    GULA-GULA UNTUK SINGA mengambil peristiwa sejarah Perang Salib ketiga pada tahun 1187 yang dipimpin oleh Salahuddin Al Ayyubi dan Raja Richard. FF ini mendapatkan banyak komentar positif dari juri, menjadikan Isti'adzah Rohyati menjadi jawara minggu ini dan duduk di peringkat pertama dengan nilai 7,49.

Semua juri sepakat mengatakan ide yang diambilnya unik dan liar. Suasana perang diwarnai letusan meriam gula-gula, Tembok Jerusalem dilapisi cokelat dan pintunya dari kue jahe. Juri Sulung menyukai diksi yang digunakan meski endingnya terburu-buru. Bahkan sampai akhir cerita juri Carolina dan Ariga tak mendapatkan jawaban siapa sebenarnya tokoh ‘Aku’ ini.

•    Di peringkat kedua ada FF berjudul MBAH SAMIN SUDAH PERGI yang mengangkat ajaran Saminisme yang merupakan bagian dari sejarah di Indonesia. Dengan nilai akhir 7,12, Putri Widi Saraswati seharusnya menempati posisi keempat, namun berkat imun juara minggu lalu, membuatnya melesat ke posisi 2.

Juri Carolina Ratri menyukai FF ini. Meski tak terlalu mengejutkan tapi penulis berhasil mengangkat lokalitas kota Blora. Menurut juri Sulung, ia menangkap ironi yang ingin disampaikan penulis, hanya saja ceritanya terasa datar. Tak ada konflik di dalamnya dan terlalu banyak catatan kaki seperti komentar juri Ariga. Bagi juri Aditia Yudis ide yang diambil bagus, sayangnya tidak dijelaskan tentang saminisme dalam cerita.

•    Dengan nilai 7,26 dan mengambil sejarah peristiwa 30 September 1965, Dian Farida Ismyama berhasil naik ke peringkat ketiga dan mengantongi tiket menuju Lucky 7 melalui karyanya yang berjudul TAWA YANG MELENGKING.

Menurut juri Sulung penulis kebingungan mencari twist padahal dengan ide yang ada FF ini berpotensi menjadi bagus. Ketiga juri lainnya kompak mengatakan jika twistnya oke, meski judul kurang mewakili cerita.

•    Di peringkat keempat Rinrin Indrianie diganjar nilai 7,24 melalui FF FIRASAT INGGIT yang mengangkat kembali sejarah Presiden pertama di Indonesia.

Cerita yang berani dan menggelitik menurut juri Ariga. Bagi juri Sulung, FF ini penuh kritik sosal dengan ide yang menarik. Sedangkan menurut juri tamu Aditia Yudis sayang sekali disebutkan terinspirasi oleh film Inception karena cerita menjadi tidak orisinil dan pemakaian istilah dari pop culture di dalamnya untuk menjelaskan plot membuat penulis kelihatan malas.

•    MALAM SETELAH GENCATAN SENJATA berhasil membawa Anastasye Natanel menduduki peringkat kelima dengan nilai 6,92. FF ini berdasar dari kisah Permesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta yang dideklarasikan tanggal 2 Maret 1957 oleh Letkol Ventje Sumual di Makassar kemudian tahun 1958 pindah markas ke Manado.

Juri tamu Aditia Yudis mengatakan FF ini terlalu berat di detail, padahal bisa dimaksimalkan untuk membangun suasana tegang dan misterius. Menurut  juri Carolina Ratri, mengapa orang-orang yang terbunuh harus dikasih tulisan besar-besar di dada (dengan kertas?) itu. Sedangkan komentar juri Ariga, cerita ini bisa diringkas dalam 2 kalimat saja. Selesai. Tak ada konflik lain. Ketegangan suasana perang tak terasa. Juri Sulung berpendapat deskripsi di awal cerita berlebihan dengan akhir cerita yang cuma begitu. Tak ada yang istimewa.

Elemination Show
Ada tiga FF yang kembali berada di posisi tidak aman dan hanya dua FF yang dapat diselamatkan melalui voting dari member MFF, yaitu :
1.    ROMANSA DI TANAH KOLONIAL - Andi Eksak
Mendapat nilai 6,88 dan vote 26,47% .
Carolina Ratri : Sebagai sebuah flashfiction, rentang waktu yang digunakan dalam FF ini terlampau jauh. Sebaiknya ambil saja kejadian/adegan yang berlangsung satu hari. Ada cara untuk menjelaskan semua sebab, yaitu dengan flashback. Emosi ceritanya juga datar sekali.
Ariga Sanjaya : Latar belakang sejarah yang dipakai sebenarnya menarik : piala dunia. Tapi tidak dengan ceritanya. Tidak terasa suasana romansa seperti tertera di judul.
Sulung : FF ini nanggung. Tidak ditemukan konflik di dalam cerita.
Aditia Yudis : FF ini yang paling biasa saja di antara yang lain.

2.    MENCARI DR. KARIADI – Anindita Hendra Puspita
Mendapat nilai 6,81 dan vote 35,29.
Carolina Ratri : Kesalahan EYD. Dekonstruksi sejarahnya lumayan, meski tak ada kejutan yang berarti. Obrolan si orang-orang Jepang kurang 'Jepang'.
Aditia Yudis : Cluenya kurang jelas.
Sulung : FF ini nyaris tak mempunyai twist.
Ariga Sanjaya : Judulnya terkesan biasa. Tapi penulis dengan berani menulis ulang cerita sejarah menjadi cerita baru. Ada ketegangan, ada plot, dan ada twist yang mengentak.

3.    HURU-HARA DI RENGASDENGKLOK – Edmalia Rohmani
Mendapat nilai 6,73 dan vote 38,24.
Carolina Ratri : Ada inkonsistensi penulisan kalimat yang diucapkan dalam hati. Di sini tampak penulis pengin main aman, dan tak terlalu berani merusak sejarah hingga twistnya menjadi landai.
Sulung : Lagi-lagi FF yg minim clue. Satu lagi yg bolong, penulis lupa menjelaskan kenapa Guntur mesti dibawa ke Jakarta.
Aditia Yudis: Endingnya antiklimaks untuk menjadi twist. Tidak berhasil, karena tidak semua hafal detail sejarah peristiwa tersebut.
Ariga Sanjaya : Seperti membaca cerita sejarah aslinya. Tak ada yang bisa dijadikan faktor pembeda.

Dari hasil penilaian dan vote dari semua member MFF, Edmalia Rohmani dan Anindita Hendra Puspitasari berhasil masuk ke dalam The Big 7. Sementara Andy Eksak terpaksa harus meninggalkan panggung kompetisi.

Tantangan untuk The Big 7 berikutnya adalah Lucky 7 Stage. Peserta diminta membuat sebuah flashfiction maksimal 500 kata dengan genre REALIS FEMINIS dari perpaduan empat tema serba 7 berikut ini:
~ 7 Deadly Sins
~ 7 Days
~ 7 Basic Notes
~ 7 Rainbow Colors
Masing-masing peserta akan mendapatkan temanya sendiri yang akan diberikan oleh Host Harry Irfan.


No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *