Wednesday, 11 March 2015

Resume Pancasila Stage - Flashfiction untuk Anak? Kenapa Tidak?






Dirangkum oleh Indah Lestari

Tidak terasa hanya tinggal 5 orang The Flasher yang tersisa pada babak ini dan hampir 3 bulan acara MFF Idol 2 ini berlangsung. The Big 5, mereka adalah para kontestan yang mampu bertahan hingga babak ini yang terdiri dari Edmalia Rohmani, Putri Widi Saraswati, Anindita Hendra Puspitasari, Rinrin Indrianie, dan Dian Farida Ismyama.

Mulai babak ini tidak ada eliminasi, semua murni dari penilaian juri. Dan, hari ini, 1 lagi harus pulang. Minggu depan dan seterusnya pun demikian hingga menyisakan 1 The Flasher yang pantas menyandang gelar juara dan menerima estafet dari The Author sebelumnya, Sulung Lahitani Mardinata.

Oleh karenanya, semakin mendekati babak grandfinal, maka tantangannya pun semakin sulit. Pada babak ini, FF yang dibuat oleh peserta mengangkat tema besar Pancasila, sedikit berat. Semakin berat ketika sasaran pembaca yang ditentukan adalah anak berusia 6 sampai 12 tahun. Target pembacanya anak-anak, bukan ceritanya yang tentang anak-anak. Tidak salah jika juri tamu yang diundang adalah Rae Sita Patappa. Beliau adalah seorang penulis cerita anak dan dongeng sejak tahun 2003. Cerita pendek dan dongeng miliknya menjadi langganan yang dimuat di Majalah BOBO.

Menurut Host Harry Irfan, kelima peserta berhasil menemukan dan meresapkan makna setiap sila ke dalam cerita, meski ada beberapa yang memanjakan pembaca ada pula yang terlalu mendewasakan. Komentar juri secara umum, lumayan. Nilai kelima peserta kembali semuanya di atas 7.

Result Show

1.    TEMAN BARU ADI – Sila Pertama - Edmalia Rohmani

Carolina Ratri :
Too telling di awal. Kelihatan mentah, kurang diolah. Kurang menarik.

Ariga Sanjaya:
Cerita ini sesuai dengan target pembaca yaitu anak usia 6-12 tahun. Dengan bahasa sederhana, cerita yang mudah dicerna ditambah dengan selipan pesan moral yang mengena. Judul pun khas cerita anak.

Sulung Lahitani Mardinata :
Buatku dari semua FF, ini yang  juara. Tema tersampaikan dengan baik, pemilihan diksi sesuai untuk target anak-anak, alur ringan, dan yang paling aku suka, twist-nya soft ala anak-anak. Good job!

Rae Sita Patappa :
Secara tema, cerita ini langsung mengarah pada sila dalam Pancasila yang dimaksud. Siapapun yang membaca akan tahu sila yang mana.  Hanya saja, ide cerita dengan tokoh yang awalnya tidak nyaman dengan kondisi beda agama dengan tokoh lain dalam cerita anak (di sekolah, teman sekelas/sebangku), dan kemudian sadar dengan pesan/nasehat orang ketiga (misal orang tua atau guru), rasanya sudah sangat sering dibuat. Ada banyak hal lain dari tema ini yang bisa jadi kisah sekaligus tambahan pengetahuan untuk anak-anak. Misal : tetap memberi bantuan meski berbeda agama (tokoh bisa disadarkan tanpa nasehat ortu/guru), kisah dengan latar upacara keagamaan yang mungkin asing untuknya, dll. Kemudian, hal lainnya yang terasa sedikit janggal adalah saat Adi kaget mendengar teman barunya beragama Kristen. Rasanya untuk kategori sekolah umum (SD), cukup aneh jika Adi merasa kaget dengan perbedaan itu. Mungkin karena keterbatasan jumlah kata, hal ini jadi terlewat untuk dijelaskan.

2.    MISTERI HILANGNYA PONSEL RIO – Sila Kedua – Rinrin Indrianie

Carolina Ratri :
Ada kalimat yang terlalu panjang. Hmmm, gitu aja nih ceritanya?

Ariga Sanjaya :
Judul yang menggunakan kata 'misteri' biasanya mampu menarik perhatian anak. Ceritanya pun lumayan. Hanya saja terasa agak dipanjang-panjangkan dengan dialog tokoh. Ujung kisah juga kurang pas, seperti tak selesai. Semestinya ditambahkan keterangan Rio meminta maaf.

Sulung Lahitani Mardinata :
Overall, bagus. Hanya satu yang membuat  jatuh. “Nak Rio, ini ponselnya ya? Terjatuh di kamar mandi tadi.” Dari mana satpam tahu? Apa dia menguping? Kamar mandi? Jadi Rio tinggal dengan satpam? Tidak ada clue sedikitpun siapa yang menitipkan ponsel tersebut ke satpam.

Rae Sita Patappa :
Judul kurang menarik. Judul dengan rangkaian kata 'Misteri Hilangnya ... ' sudah sangat sering jadi judul cerita.  Cerita anak orang kaya yang barangnya hilang, lalu menuduh teman lain yang kurang mampu, lalu ternyata barang tersebut tertinggal/terlupa di tempat lain, juga cukup sering. Urut-urutan kisahnya juga tertebak. Barang hilang, ada seorang anak yang jadi tertuduh, lalu barang ditemukan di tempat lain. Tapi, yang menyenangkan dari cerita ini, tidak diakhiri dengan nasehat panjang lebar tentang tidak boleh menuduh teman sembarangan lalu tokoh tersebut sadar.

3.    PONDOK JAGOAN CILIK – Sila Ketiga – Anindita Hendra Puspitasari

Carolina Ratri :
“Kerja sama” bukan “kerjasama”. But, I loooove this story!! Cuma agak janggal dengan kata-kata Ayah Lukman yang tentang kendala bahasa. Karena Lukman dan Edwin sepertinya tidak mempermasalahkan bahasa kan? Mungkin bisa ditambah, kenapa Edwin tidak suka karena Gilbert berbadan besar (karena takut merusak rumah pohon misalnya), Putu pendiam (karena nanti tidak asik diajak ngobrol) dst.

Ariga Sanjaya :
Semua aspek bagus. Judul, cerita, diksi, twist, logika, semua berpilin rapi dan padu. Sedikit perlu penjelasan adalah hubungan antara Lukman dan Edwin. Sepupu? Atau tetangga dekat? Itu saja yang luput menurutku.

Sulung Lahitani Mardinata :
Aku juga suka FF ini. Tema tersampaikan dengan baik. Hanya saja tidak nge-twist. Padahal cerita anak-anak juga bisa diberi twist, lho. Yang soft aja. Agar bisa ditangkap pembaca anak-anak.

Rae Sita Patappa :
Judul menarik. Meski tergambar ini mengenai sebuah pondok, tapi detil ceritanya yang mengumpulkan sekian banyak anak dengan berbagai perbedaan menjadi satu dan membuat pondok itu jadi lebih baik, disampaikan dengan cara yang manis. Ada nasehat, tapi porsinya cukup pas. Tidak mengarah pada : kalian harus menghormati teman-teman karena bla.. bla.. bla.. Dalam kisah ini, para tokoh mengerti karena pengalaman sendiri yang menyenangkan bersama teman-teman yang berbeda itu.

4.    MISTERI HILANGNYA BRUTU RAKSASA – Sila Keempat – Putri Widi Saraswati

Carolina Ratri :
Hahahaha. Ngakak. *uyel-uyel Kemon* Ini perfect. Cuma di awal ada 'sebelas' dan 'delapan' itu menurutku nggak terlalu penting Ternyata bisa juga bikin cerita simple.

Ariga Sanjaya :
Misteri kehilangan' yang kedua. Kali ini brutu. Di tengah cerita tokoh 'tertuduh' sudah dikenalkan. Menurutku terlalu mudah tertebak pelakunya. Perwujudan sila 'musyawarah/mufakat' cuma sedikit 'disenggol' di bagian pembagian brutu. Beberapa adegan justru tidak baik buat anak : saling memukul dan berteriak menuduh. Sayang sekali.

Sulung Lahitani Mardinata :
Untuk cerita anak-anak, akan lebih baik banyak menggunakan deskripsi dibanding dialog. Sebab itu akan merangsang imajinasinya untuk membayangkan deskripsi kejadian dari apa yang ia baca. Lumayanlah, tapi aku kok merasa temanya kurang nancep di FF ini. Dan lagi, cara bercerita yang patah-patah buatku kurang smooth sebagai cerita anak-anak. Agak membingungkan.

Rae Sita Patappa :
Serupa judul No. 2. Kata 'Misteri Hilangnya..' sepertinya jadi favorit kalau membuat judul cerita anak.  Sebenarnya judul ini menarik karena ada 'Brutu Raksasa', sekiranya saja bisa ditambahkan kata-kata lain sebagai judul. Ide cerita menarik. Lalu ada istilah-istilah atau makanan yang tidak umum. Diksi menyenangkan untuk dibaca. Penulis mengungkapkan sesuatu dengan cara berbeda seperti : Ambar mengawasi, seperti elang botak di National Geographic.. Kasus hilangnya 'cuma' brutu bisa jadi seru dengan kalimat-kalimat polos khas anak-anak saat mereka menduga Papa yang memakan brutu. (“Kan, Papa nggak lagi mandi?” desak Ambar. “Kan, Papa nggak lagi main kucing?” beo Andari.). Ending tertebak tapi cukup menarik. Cukup sering di ending cerita anak, ternyata binatang peliharaan yang jadi 'pelaku sebenarnya'. Tapi di cerita ini, anak-anak bisa terlibat (ikut menebak) lewat tanda yang diberikan penulis tentang kebiasaan Kemon makan-makanan yang 'tidak biasa'. Saya yakin ada anak-anak yang tersenyum setelah membaca ending sambil membatin senang : Tadi aku juga menduga Kemon yang makan.

5.    BUKU AJAIB – Sila Kelima – Dian Farida Ismyama

Carolina Ratri :
Nah, ini kebalikan dari “Misteri Hilangnya Ponsel Rio”. Kalimatnya pendek-pendek banget. Jadi tidak enak dibacanya. Idenya bagus, dekonstruksi ikan emas. Eksekusi kurang smooth.

Ariga Sanjaya :
Judulnya menarik. Sila kelima pancasila yang mulai dikenalkan di awal kisah seperti lenyap digerus cerita fantasi yang dipaparkan setelahnya. Dan ujung cerita justru menimbulkan kernyitan baru di dahiku. Sebuah misteri lagi? Kenapa Bunda? Alasannya apa? Dan serentetan lain pertanyaan muncul di benak.

Sulung Lahitani Mardinata :
Aku berharap lebih dari ini untuk sila kelima. Buatku sih, ketimbang menjadikannya fantasi, akan lebih baik mengambil cerita lingkungan sekitar untuk dijadikan cerita anak-anak dengan tema sila kelima. Akan lebih membekas.

Rae Sita Patappa :
Judul sudah menjelaskan tentang Buku yang Ajaib. Sebenarnya sangat bisa dieksplore judul lain yang jauh lebih menarik untuk cerita ini. Ide yang mengarah pada buku yang bisa membawa anak-anak ke dalam buku, selalu seru dan menyenangkan. Saya rasa setiap kita di masa anak-anak selalu merasa masuk ke dalam kisah yang kita baca. Itu sebabnya kita suka membaca.  Tidak ada nasehat, tapi tokoh ibu melakukan kebaikan dengan disaksikan langsung oleh anak tersebut (dengan rasa kaget), sudah jadi nasehat manis yang terselubung oleh misteri.

Nilai dan Peringkat :
1.    Anindita Hendra Puspitasari mendapat nilai 7,64.
2.    Putri Widi Saraswati mendapat nilai 7,48.
3.    Edmalia Rohmani mendapat nilai 7,29.
4.    Dian Farida Ismyama mendapat nilai 7,17.
5.    Rinrin Indrianie mendapat nilai 7,15

Dengan demikian maka Rinrin Indrianie tidak dapat melanjutkan langkahnya ke babak selanjutnya. Sedangkan Anindita Hendra Puspitasari, Putri Widi Saraswati, Edmalia Rohmani, dan Dian Farida Ismyama kembali bergabung dalam The Big 4 menuju babak PYSCHOLOGI STAGE. Pada babak ini The Flasher diminta membuat flashfiction maksimal 600 kata, genre bebas dengan tokoh utama dari salah satu karakter dasar manusia : Sanguin, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Tantangan tambahannya, peserta harus membuat 3 tokoh pendukung dari 3 karakter yang lain.

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *