Thursday, 12 March 2015

Resume Psychological Stage - Selami Sisi Kejiwaan dalam Flashfiction





Dirangkum oleh Indah Lestari

Pada babak ini para peserta, Edmalia Rohmani, Anindita Hendra Puspitasari, Putri Widi Saraswati, dan Dian Farida Ismyama harus menaklukan tantangan psikologi. The Big 4 diminta membuat FF dengan tokoh utama dari salah satu karakter dasar manusia, yaitu : Sanguin, Koleris, Melankolis dan Plegmatis. Tantangan tambahannya, peserta harus membuat 3 tokoh pendukung dari 3 karakter yang lain.

Ada kejutan dalam babak ini, yaitu bukan hanya 1 juri tamu yang diundang untuk menilai karya para peserta tetapi ada 2 orang juri yang sangat kompeten dalam dunia Psikologi. Juri tamu yang pertama adalah Weka Swasti, beliau adalah editor penerbit Stiletto Book dengan latar pendidikan psikologi, jadi tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.

Juri tamu selanjutnya adalah Bety Sanjaya. Selain aktif menulis dan berpuisi, beliau juga sangat piawai membuat sketsa seperti juri kesayangan Carolina Ratri. Sama dengan Weka Swasti, Bety juga memiliki latar pendidikan psikologi. Rutinitas kesehariannya tidak jauh dari tema di babak ini, jika kalian pernah diwawancara oleh psikolog ketika rekrutmen pekerjaan, mungkin saja itu beliau.

Result Show

1.    RAHASIA BESAR SULUNG - Edmalia Rohmani

Carolina Ratri :
“Tak seorang pun” bukan “tak seorangpun”. Berusaha mencuri perhatian dengan memakai nama juri. Untung plotnya oke. Ide juga tidak terlalu orisil. But, yeah. Nice!

Ariga Sanjaya :
Judulnya menarik, menyimpan misteri. Apakah rahasia besar yang disimpan Sulung? Sayangnya aku nggak menemukan 'rahasia' itu. Semula aku menduga bahwa cerita ini setipe dengan novel '24 Wajah Billy' di mana si tokoh Billy menyimpan 24 kepribadian lain. Kuduga tokoh Carol, Riga, dan Harry adalah kepribadian lain dari Sulung. Tapi menurutku eksekusinya masih kurang. Karakter kepribadian tiap tokoh 'cuma' dideskripsikan dalam 1 paragraf, dimaksudkan sebagai pengantar barangkali. Akibatnya, interaksi antara 4 kepribadian (atau tokoh?) itu jadi kurang maksimal. Tipe kepribadian phlegmatis yang secara umum digambarkan sebagai si cinta damai rasanya cukup terwakili.

Sulung Lahitani Mardinata :
Masing-masing tokoh tergambar dengan baik kepribadiannya. Aku suka idenya, sayang, twist-nya banal banget. Oh ayolah, sudah berapa penulis dengan ide seperti ini yg ujungnya bunuh-bunuhan? Banyak! Nama Sulung terdengar janggal di tengah nama-nama tokoh yang berbau Barat. Rubanah itu apa, ya? Aku cek di KBBI tidak ketemu.

Bety Sanjaya :
Judul yang memakai kata Rahasia sebenarnya sudah bisa menjadi clue dari cerita ini, sehingga tidak istimewa. Kecuali bahwa penokohan memakai nama dari para punggawa MFF. Apakah karakternya juga begitu? Oke, skip. Tema dengan tokoh yang memiliki split personality mungkin paling mudah dipilih ketika mendapatkan tantangan ini. Tapi bukan berarti tanpa risiko. Seperti halnya tiga cerita yang lain, pemahaman karakter tokoh masih perifer. Bahkan saya agak terganggu dengan tokoh Carol pada saat berhadapan dengan Clif. She's supposed to be the choleric one, isn't she? Namun dibanding cerita yang lain, saya sedikit puas dengan penggambaran Sulung sebagai si phlegma.

Weka Swasti :
Karakter tokoh utama kurang tereksplorasi sehingga karakter plegmatis yang ingin ditonjolkan kurang terasa. Ceritanya oke.

2.    NASI UDUK ISTIMEWA - Anindita Hendra Puspitasari

Carolina Ratri :
Karakter utama sudah sangat koleris. Pian dan Santi agak kabur. Coba cek lagi setting waktunya. Rasanya tidak cocok, lamanya proses memasak sama lamanya Diana melayani pelanggan. Twist lumayan mantap.

Ariga Sanjaya :
Judul lumayan. Karakter utama koleris yang dominan dan senang memerintah tergambar cukup baik. Sayang ceritanya biasa saja. Sepanjang cerita yang terbayang cuma sosok Diana yang cerewet memerintah sana-sini. Dan puntiran di akhir malah lebih biasa lagi, sudah sangat sering dijadikan pemungkas kisah.

Sulung Lahitani Mardinata :
Untuk karakter, cukup bisa dibedakan masing-masing kepribadiannya. Hanya saja, di FF ini penulis malas banget memberi clue yang membimbing ke arah twist ending. Justru sibuk dengan deskripsi tokoh.

Bety Sanjaya :
Pertanyaan setelah membaca cerita ini adalah apa kesalahan orang yang pesan nasi uduk sampai ia harus menanggung kekesalan para pegawai terhadap Diana? Ini yang membuat kesan ada pemaksaan twist dan logika. Sementara untuk penokohan, terkesan penulis hanya memahami empat kepribadian tersebut secara perifer. Koleris sudah digambarkan oleh penulis sebagai pribadi yang sangat tegas dan berorientasi pada target, namun tidak selalu harus marah-marah seperti itu. Bahkan seorang Koleris cenderung tidak emosional dalam bertindak.

Weka Swasti :
Karakter koleris lumayan dapat meski tapi emosi kurang terasa.

3.    JANE DOE - Putri Widi Saraswati

Carolina Ratri :
Jane Doe, pemilihan nama yang bagus untuk karakter yang tak nyata  Ada dua karakter utama yang tertangkap jadinya. Si sanguin jadi kurang menonjol.

Ariga Sanjaya :
Aku heran dengan penggunaan istilah Jane Doe yang mengacu pada seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Ini yang membingungkan. Kenapa Bibi Shelly begitu perhatian pada Jane Doe? Menilik cara dia menyebutkan nama, pasti dia tak tahu nama Jane yang sebenarnya. Lalu kenapa? Mengingatkannya pada sosok anaknya yang sudah meninggal? Penyebab meninggalnya si anak juga tak jelas. Pastinya sangat menyakitkan, sebab penulis memberi petunjuk lewat sikap suami si Bibi. Satu lagi, biasanya penderita gangguan mental mendapat pengawasan sehingga tak sembarang benda bisa masuk. Jadi, kenapa Jane bisa menyelundupkan kue? Kata 'menyelundupkan' juga rasanya kurang tepat, sebab harusnya seseorang melakukan itu untuk Jane. Lalu, kenapa khawatir Jane bisa meracuni kuenya? Apakah selain kue, seorang Jane juga bisa mendapatkan racun dengan begitu mudah?

Sulung Lahitani Mardinata :
Tokoh utamanya, Jane kah? Soalnya berdasarkan tantangan, harus ada satu karakter kepribadian yang lebih dominan, dan sepertinya bukan Shelly. Menurutku, pembagian karakter kepribadian untuk peran pembantu masih agak samar. Selebihnya, aku tidak tahu mau komentar apa. Buatku, sekali lagi, ini ide cerita yang out of the box. Serasa membaca novel thriller luar negeri.

Bety Sanjaya :
Rumit tak selamanya menarik, atau dalam hal ini ide yang wah tak selamanya bisa fit dengan tema yang diminta. Ada beberapa hal yang menyisakan pertanyaan, terkait kepribadian tokoh dan juga logika cerita. Hati-hati jika ingin mengusung tokoh yang memiliki gangguan kejiwaan. Perlu riset yang dalam, terlebih jika ingin 'mengawinkannya' dengan tipe kepribadian. Twist cerita ini juga menjadi terganggu karena logika: dari mana Jane bisa mendapatkan cokelat (yang berpotensi telah teracuni) jika sehari-hari kamarnya dikunci dan dia diawasi oleh seorang koleris sejati?

Weka Swasti :
Karakter sanguinis Jane sangat terasa, emosinya kuat, suasananya sangat terasa. Saya suka banget yang ini .

4.    TITIK BALIK - Dian Farida Ismyama

Carolina Ratri :
Masih pakai "nafas" dan "kemana-mana". Hvft. "Kau" pada paragraf awal itu merujuk ke siapa ya? Kok bingung.

Ariga Sanjaya :
Aku tidak paham korelasi antara judul titik balik dengan isi cerita. Tak dijelaskan peristiwa apa yang menjadi titik balik bagi tokoh utama. Logika cerita juga kurang mulus menurutku. Suami yang punya 'kekurangan' akan berusaha mati-matian 'menebus' kekurangannya dengan memberi perhatian lebih, lebih romantis, dll. Bukannya seperti tokoh suami yang malah dikesankan cuek saja. Karakter melankolis juga masih bisa dioptimalkan.

Sulung Lahitani Mardinata :
Karakter tokoh sesuai kepribadian sudah cukup baik. Hanya saja, ada yang bolong. Raka ini siapanya si aku? Sampai-sampai sesudah menikah pun masih dipercaya. Sahabat? Rasanya tidak mungkin. Ibu si aku malah ingin Raka menikahi si aku. Dan lagi, memangnya ibu si aku yakin Raka tidak mandul? Sudah dites?

Bety Sanjaya :
Seorang melankolis perasa? Ya. Dan melankolis cenderung setia. Karakter melankolis bisa dieksplorasi lebih dalam lagi di cerita ini. Yang tersaji masih lapisan pertama dan keburu disudahi. Penamaan Titik Balik sebagai judul belum terlihat fungsinya. Apa yang menjadi titik balik? Kenyataan mengenai Arman yang didengar oleh Rani? Kalau iya, kelanjutannya bagaimana? Karena menurutku kelanjutannyalah yang bisa menjelaskan arti judul dan bisa dipakai untuk lebih memperjelas karakter Rani. Pertanyaan terakhir: Jadi kapan Mamanya Rani membuatkan teh?

Weka Swasti :
Logikanya lemah, sosok tokoh yang melankolis kurang menarik karena kurang eksplorasi karakter.

Nilai dan Peringkat

1.    Edmalia Rohmani berada di posisi pertama dengan nilai 7,44
2.    Putri Widi Saraswati berada di posisi kedua dengan nilai 7,43.
3.    Anindita Hendra Puspitasari berada di posisi ketiga dengan nilai 6,91.
4.    Dian Farida Ismyama berada di posisi keempat dengan nilai 6,86.

Sudah sejauh ini, langkah Dian Farida Ismyama harus terhenti di babak ini. Sementara Edmalia Rohmani, Putri Widi Saraswati, dan Anindita Hendra Puspitasari berhasil menjadi The Big 3 dan melenggang ke babak selanjutnya, yaitu SCIENCE STAGE. The Flasher diminta memilih 3 teori atau rumus umum dari masing-masing cabang ilmu sains Biologi, Fisika dan Kimia. Misalnya, dari Fisika kamu mengambil teori relativitas, dari Kimia kamu mengambil teori Atom Dalton, lalu dari Biologi kamu mengambil teori metamorfosis.

Peserta harus mengembangkan ketiga teori yang dipilih menjadi sebuah flashfiction maksimal 700 kata dengan genre bebas.

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *