Thursday, 12 March 2015

Senin Berpuisi, Keping #22; Tema Gambar

Selamat hari Senin, kembali di #SeninBerpuisi. Kali ini kita tidak akan menggunakan sebuah kata sebagai topik. Untuk mengganti kata tersebut, silahkan berimajinasi menggunakan gambar di bawah ini sebagai #TopikPuisi


Selamat berimaji dan menenun kata.

Edmalia Rohmani
Dan lalu daunku layu
Meranggas terbakar di bening matamu
Satu-dua helai mengepak tinggi
Menggapai senja yang mukim di rona pipi


Lukman Hambali
Itu asaku, yang beterbangan hingga kering
Itu ragaku, tanpa nyawa menyauk tanah hingga tandus
Pada cinta kutitipkan pesan,
Tinggallah sejenak, hingga tak selembarpun daun kau lihat.


Rifki Jampang
setelah lama kumenunggu
kulipat dedaunan menjadi burung-burung duta suara
kuterbangkan mereka sambil membawa sekeping rindu
semoga engkau masih terjaga
dan mendengar pesan jiwaku
aku menantimu di bawah pohon tempat kita berjanji untuk bertemu kembali


Junioranger All
Batangku yang dulu angkuh kini telah rapuh
Daunnya pun berarak, terbang, meluruh
Burung yang hobi bertengger kini menjauh
Kini aku hanyalah batang sepuh, meranggas dan hilang peluh.


Ajen Angelina
Barangkali jatuh cinta adalah sebatang pohon yang gugur.
Kepada daun yang gugur, rindu menitipkan kenangan.
Kepada angin yang menerbangkan daun, kenangan membeku waktu.
Lalu apakah cinta adalah rindu, kenangan, dan waktu?
Daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin


Rifki Jampang
lembayung senja perlahan menghilang
gulita merambat langit tak bertepi
kelelawar-kelelawar di cabang keringku terjaga
mereka lalu terbang berkelana
meninggalkanku sendiri
sebatang pohon tua sekarat yang sedang menunggu ajal datang


Junioranger All
Separuh mahkotaku meluruh
Rantingku ringkih dan rapuh
Akarku tak kuasa menopang tubuh
Meski batangku terlihat angkuh,
Aku yakin sang angin bisa saja merobohkanku dalam hitungan sepuluh.


Edmalia Rohmani
Terbanglah tinggi, Anakku
Segera setelah pedat perutmu dengan saripatiku
Sebarkan tunas kebajikan pada dunia yang renta durjana
Teteskan bulir-bulir dharma
Hingga kelak rantingku layuh dan tunjangku tak lagi tegak menjulang
Sebagai penghiburku di ujung senja


Ajen Angelina
Kepada daun yang gugur, pohon menitipkan kenangan.
Kepada hati yang jatuh, cinta menitipkan harapan.
Dan kita menitipkan kenangan dan harapan pada angin.
Seperti daun yg gugur, hati yang jatuh juga berharap angin membawa mereka ke tempat yang tepat.


Isti'adzah Rohyati
Ingatkah kau pohon yang meranggas di bulan sembilan?
Sesungguhnya dedaunan itu hanya beterbangan
Menari-nari dengan alunan angin yang bergelombang
Sebagai pertanda pada beburungan, juga sang pohon yang merasa malang


Onixtin Octarina Sianturi

Katamu, sepucuk dahan tak pisah begitu saja?
Hanya ranting bersama peluh tersisa kini
Katamu, kita dua jiwa melebur satu?
hanya tertinggal aku, si beringin senyap layu, tanpamu.


Anindita Hendra Puspitasari
Aku adalah pohon mati
Hilang gagah namun coba terus berdiri
Fajar, senja, silih berganti
Tak kusangka kepak sayap indahmu jatuh hati
Satu, dua, tiga, kemudian segerombol kawanmu mengikuti
Sekejap aku hidup lagi, sekejap kemudian waktu membawamu pergi

Selamat untuk puisi yang terpilih dan yang terbaik. Sekali lagi PIC mau mengingatkan sebelum ikutan, yang belum paham peraturannya silahkan lihat di link sini >> "Aktivitas Grup" sayang kan ada beberapa puisi yang sebenarnya bagus, namun tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Terimakasih.



2 comments:

  1. Waah di bold. Mimpi apa aku semalam. :l

    ReplyDelete
  2. Ish ngaku2 di-bold! Itu yg di-bold namanya Junioranger All, tauk! Kamu siapah? :p

    ReplyDelete

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *