Friday, 27 March 2015

Sharing: Menentukan Harga Buku

Sumber


Halo teman-teman MFF ^_^
Maaf ya rekap ‪#‎KamisSharing‬ telat nih.

Oh ya, kali ini PIC mau sharing tentang topik yang lagi hangat-hangatnya di kalangan penulis. Jika teman-teman diberi kesempatan menerbitkan buku dan bisa menentukan harga buku sendiri, apa saja yang jadi pertimbangan kalian?


Erlinda S W 
Pertama, desain. Mau kertasnya apa, cover-nya gimana, pake berapa warna? Ini bisa nekan biaya atau malah nambah biaya. Baru deh mikir ke isinya. Terus segment-nya. Hehe. Sebagai penulis mungkin pertimbangan utama ya penghargaan karya kita melalui harga buku itu. Tapi desain ini megang peranan penting juga. Soft cover sama hard cover kan beda.

Jiah Al Jafara 
Saya datang....
Baru juga ngetwit tentang harga eh Miss sharing datang....
Kalau bisa nentuin harga, maunya yang ramah kantong miss. Jadi semua orang bisa beli dan baca karyaku dan mengambil manfaat dari yang dibaca. Ya walaupun kadang harga mahal = kualitas bagus, itu terserah mereka lah.

Al Qur'an aja yg bermanfaat 20 rb dapat, jarang yang baca. Gimana harga selangit?

PIC
Harga bahan baku memang sangat menentukan dan mungkin jumlah cetak bukunya

Erlinda S W 
Iya mbak jumlah cetak. Kalo di bawah 1000, print on demand sih bagus. Kalo di atas 1000 mending jangan tapi langsung sekali cetak banyak. Sama kalo mau nyetak sendiri sih bisa tuh harga ditekan dengan beli kertas sendiri, bukan dari percetakannya.

Carolina Ratri 
Jumlah halaman dulu biasanya kalau aku. Sejauh ini selalu di bawah 200 sih. Kalo material sih, aku nggak suka ikut rempong. Riweuh kalo musti ikutan nyari material. Jadi biar yang nyetak aja yang nentuin. Biasanya nego-nego aja. Sama menghitung royalti. Pokoknya so far, aku selalu usahakan di bawah 40rebu per buku.

Jiah Al Jafara 
Sekarang cetak buku kembali ke niat. Kalo buku motivasi marketing gitu kan lumayan harganya, ya karena banyak faktor, edisi terbatas, yang nulis punya nama dan juga manfaatnya.

PIC
Harga 40rb itu memang harga yang bersahabat banget Mbak Carolina Ratri selama masih dibawah 50rb nggak akan lama mikirnya. Mungkin harga segitu termasuk harga psikologis?

Carolina Ratri 
Iya. Kebanyakan di bawah 50 itu orang udah bilang worthed untuk buku. Di atas itu, udah mulai banyak yang mikir. Bisa jadi itu memang angka psikologis untuk buku sekarang ini. Yaaaa, kalau mau dibikin 50 tapi biar lebih 'psikologis' lagi, serempetlah ke angka 49rebu 

Alina Fresila 
Kalo indie seharga 145k untuk penulis pemula itu worthy gak?

Tara Orian 
Kalau aku sih pertama kali cover. Kalau cover-nya pakai jasa orang kan tentu memakan biaya tersendiri. Selepas itu, tebal halaman, jenis kertas yang dipakai, dan bagi keuntungan sama pihak pencetaknya. Kalau mau lebih keren, mungkin bakal kupertimbangkan untuk minta endorse dan endorser-nya dikasih tanda terima kasih berupa buku. Kalau bisa jangan diatas 50K, takutnya nggak ada orang mau lirik, kecuali aku sudah setenar Dee Lestari. 

Tapi, itu cuma perkiraan kasar aja, karena aku belum pernah cetak indie/selfpublish yang sering itu ditolakin sama penerbit major. *loh kok malah curhat?  *

Erlinda S W 
Kalo buat saya nggak Alina Fresila abis itu buku pertama dia. Kecuali dia udah beberapa kali nulis buku terus saya merasa wah tulisannya bagus layak banget koleksi, nah baru....

Alina Fresila 
Oh terus kalo dia pemula dan harga 80k gitu. Masih minat?

Isti'adzah Rohyati 
Pemula, kalau kayak Diana Rikasari, harga 80k itu banyak yang mau. Bahkan lebih mahal sekali pun, banyak yang mau beli. Itu pun dia major, bukan indie. 

Kalau kayak dia, yang baru muncul dan bikin heboh macem-macem kemudian nulis novel, kan kita nggak tahu kualitasnya. Harga 80k pun mungkin nggak banyak juga yang mau beli. Liat sinopsis di webnya aja udah bikin mata kelilipan. 

Alina Fresila 
Oh baiklah. Jadi semua balik lagi kepada amannya kantong dan karakter penulis. Makasih jawabannya 

Tara Orian 
Kalau kata saya sih bukan ke karakter penulis, tapi kualitas, mbak Alina. #melipir

PIC
Mbak Alina Fresila kalau seorang pemula menulis buku dengan ketebalan 300 halaman atau lebih, cetak hard cover dan berwarna kayaknya masih masuk akal sih harganya 80rb hehehe

Tara Orian 
Karena kita semua di komunitas ini paham betul, bahwa membaca novel fiksi pun akan jadi sama pentingnya dengan buku pelajaran sekolah (banyak yang bisa diambil pelajaran, mulai dari teknik membangun konflik, cara mengolah hasil riset agar tidak seperti jurnal ilmiah hingga keahlian penulis memuntir cerita hingga membuat kita berpikir, 'kok bisa, sih?'), jadi kita perlu selektif dalam memilih bacaan. Bukan hanya aman di kantong atau seberapa populer orang yang menulis, tapi juga bobotnya. 

Carolina Ratri 
Btw, barusan penerbit di mana aku kerja cetak buku setebal 132 halaman full color soft cover aja masih bisa jual 46ribu kok. Jadi ya, memang kembali lagi mau keuntungan berapa yang mau diambil.
Tapi ya itu ding, nyetaknya 2500 ex hahahahaha. Tapi kayaknya kalau POD juga paling beda 5 - 10 ribu. Jadi nggak sampai juga 145 rb.
Royalti standar sih sekitaran 10%. Jadi tinggal dihitung aja. Harga produksi berapa (termasuk jasa-jasa desain, layout, dll) ditambah 10% gitu aja gampangnya.
POD = Print on Demand. Dicetak sejumlah yang dipesan Mpok Isti. Kayak Nulisbuku.

Jiah Al Jafara 
POD segitu banyak, mau dibuat souvenir-kah?? Wow 

ya walaupun cuma fiksi, sebagai pembaca kita kan juga mau dimanja, dengan EYD yang baik, nggak bikin sakit mata, apalagi sakit hati karena ngeluarin duit buat beli.

ChocoVanilla 
Waahh, telat nih, Miss mo ikutan ...
Yahh, yang menentukan sih barangkali harga bahan, ongkos cetak, bayar editor, desain, warna. Nah, nama besar penulis juga pengaruh yaa. 
Klo bukuku sih nggak penting harganya, terserah penerbitnya yang penting bukuku nangkring di toko buku udah puassss ... rasanya. Dan kepuasan nggak bisa dinilai dengan uang. Gitu, Miss 


*dihh, komen panjang lebar. Bukunya manaa??? Manaaa???*

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *