Thursday, 10 September 2015

Karya Terpilih Prompt #86 : Dinding Agung



“Siapa namamu?”

“Tomo.”

“Siapa?”

“Tomo. Utomo.”

Tembok tebal. Sejauh mata memandang, aku dikelilingi dinding besar nan tinggi. Putih biru warnanya. Agak keropos dan bolong di sana-sini. Berantakan. Tapi yang jelas, dinding itu tak berpintu, tak berjendela. Tak ada celah untuk keluar. Aku—atau kami—terkurung di sini.

“Selamat datang di Dinding Agung.”

Aku dikerubungi banyak orang bak pertunjukkan topeng monyet. Mayoritas dari mereka lebih tua dariku. Tubuh mereka kumal tak terurus. Baju compang-camping dan rambut gondrong. Yang perempuan, kurusnya bukan main.

“Apa yang kau pikirkan saat kau mengklik tombol ‘Bergabung dengan Grup’? Kaupikir ini grup biasa? Bukan! Ini nyata!”

“Kau ingin belajar menulis? Mengarang? Membuat cerita? Di sinilah tempatnya!”

“Tapi kenapa...”

“Bingung, ya? Kami juga. Tapi tak mengapa. Di sini, kau akan belajar menulis setiap hari. Bukan... bukan ‘akan’. Tapi HARUS!”

“Ya, SETIAP HARI! Tidak boleh ada kata malas. Tidak ada kata tidak mood. Tidak boleh lelah.”

Terbahak. Seolah gigi-gigi mereka berebut ingin keluar dari tempatnya. Kepalaku dipukul-pukul pelan. Pipiku dicubiti para perempuan. Masih linglung, kuhampar pandanganku. Hanya tanah lapang, rumah-rumah gubuk, kebun kecil, dan peternakan yang nampak.

“Tidak. Aku mau pulang!” kataku.

“Pulang sana kalau bisa! Panjat atau kaugerogoti dinding itu sampai bolong!”

“Dengar, Anak Manja. Di sini, hidupmu tergantung pada tulisanmu, pada karya sastramu. Kau mau makan enak, buatlah karya yang bagus! Kau mau tidur di gubuk itu, buatlah karya yang beda! Kau mau pulang, Anak Kecil? Tulislah karya yang bisa menggugah hati Sang Raja. Maka dinding itu akan terbuka. Hahahaha.”

“Tak menulis, tak ada makanan. Tak mengarang, tidur di luar. Tak bercerita, tak boleh pulang! Hahahaha.”

“Sang Raja akan menulis aturan di dinding itu tiap hari. Aturan itu berisi tema, panjang cerita, dan ketentuan-ketentuan lainnya. Kaulah yang harus putar otak bagaimana caranya mengomposisinya menjadi cerita yang seru. Wahahaha.”

“Eh, jangan salah! Cerita itu bukan hanya seru, Bung. Tapi yang penting HARUS ADA MAKNANYA! Hahaha. Harus ada pesan, nasihat, teguran, atau sindiran. Sastrawan harus mengusahakan kemampuan untuk menyampaikan hal penting dalam beberapa patah kata saja. Begitu kata guru saya.”

“Siapa?”

“Sapardi Djoko Damono.”

“Ah, saya nggak kenal! Hahaha.”

“Kampungan!”

“Bodo!”

Satu-satu dari mereka akhirnya saling jotos, saling bogem. Berguling-guling, tumpang-tindih bagai penggulat Jepang. Aku garuk kepala. Aku yang paling muda di sini, tapi kenapa rasanya seperti berada di tengah-tengah kumpulan anak kecil? Mereka bertengkar hanya karena beda pendapat.

“Hoy, sudah! Sudah! Raja menulis! Aturan datang! Cepat!”

Tiba-tiba dinding-dinding itu bergemuruh dan muncul tulisan yang besar di sana. Aku tak mengerti tulisannya. Hanya kode-kode. Aku hanya mematung melihatnya. Sedang yang lain terbirit-birit mengambil pena dan kertas. Lalu mencari tempat ternyaman untuk menulis.

“Woy, Anak Baru! Cepat tulis ceritamu!”

“Memang kenapa?”

“Waktu kita hanya setengah jam, tolol! Cepat!”

Bergegas, aku juga mencari pena dan kertas. Tak ada kertas? Ah, daun pisang saja. Kupikir sambil zikir. Tak ada pena juga? Kutulis pakai pensil alis. Kukarang sampai tunggang-langgang. Kukomposisikan hingga sedemikian rupa. Entahlah. Bagus atau tidak, yang penting tulis. Toh nanti juga ketemu sendiri bentuknya. Tulis, hapus, edit, tulis lagi. Pikir keras, putar otak.

Dan Sim Salabim Abrakadabra... jadilah cerita ini.

Tomat.


Cerita asli di SINI

**
Fajar is on fire! Menyajikan kisah unik dengan tempo cepat bikin pembaca seolah ikut terpacu. Sempat terpikir bahwa bisa saja cerita Fajar ini berisi satir terhadap prompt itu sendiri. Bisa juga tidak. Yang jelas, ceritanya cerdas!






No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *