Thursday, 17 September 2015

Karya Terpilih Prompt #87 : Dawai yang Hilang


oleh : Riebuan Cahaya

"Kau sudah lama menungguku, Samuel?"

Satu suara lembut menyapa, menggelitik rongga-rongga telinga. Tubuh Alina meluncur turun dari dalam lubang gitar, meliuk-liuk pada lantai layaknya ular sebelum akhirnya memanjat tungkai kakiku.

Di pangkuanku tubuhnya memadat, rambut keperakan miliknya berdenting halus memainkan nada-nada melankolis.

"Aku menanti ini,"–aku meremas rambut peraknya–"kenapa kau lama sekali?!"

Alina membisu. Jemariku lalu mulai mencabuti beberapa helai rambutnya hingga nyanyian tadi terhenti.

"Kau hanya mencintai rambutku bukan, Samuel?"

Alina beranjak, menatapku lekat dengan sepasang mata keperakan.

"Tidak, kau salah. Yang kucintai  hanyalah tubuh mudaku, Alina. Kau tak tahu betapa tersiksanya hidup di tubuh renta itu, bila kau sedikit saja datang terlambat."

Tanganku terulur, helaian rambut perak di tanganku berlomba turun. Kaki-kaki mereka dengan gesit berlarian menuju gitar tuaku yang tak berdawai. Sampai di sana mereka berhenti, menatap Alina.

"Ayo Alina, katakan pada mereka."

Alina bergeming.

"Aku sudah membantumu selama bertahun-tahun. Apa imbalannya untukku kali ini, Samuel?"

"Ap-apa?! Kau tak pernah meminta apa pun sebelumnya!"

"Aku memintanya sekarang."

"Kumohon Alina, cepat perintahkan mereka! Aku sudah mulai menua!"

Aku berlari menuju cermin di dinding kamar. Rambut hitam tebal kebanggaanku perlahan memutih. Kusingkap bajuku. Tak ada lagi dada bidang berotot, yang tersisa hanya selembar tubuh kering dengan tulang-tulang rusuk bertonjolan.

"Apa imbalannya, Samuel?"

Di depanku Alina seolah mengulur waktu. Riapan rambut peraknya kembali bersenandung, kali ini nadanya menghentak, membentur dinding otak. Seketika ingatanku melayang pada tubuh ranum perempuan-perempuanku. Oh, aku sangat merindukan mereka.

"Apa pun akan kuberikan, tapi tolong bantu aku!"

Aku berteriak panik. Kulitku mulai mengelam, keriput menjalar keluar dari lubang telinga memenuhi area wajah dan tubuh. Punggungku berderit, tulang-tulangnya saling dorong memaksaku membungkuk.

"Alina ...," panggilku putus asa.

Di depanku Alina tersenyum misterius.

"Anak-anak, mulailah bermain!" teriak Alina.

Helai-helai rambut perak tadi mengangguk. Tubuh ramping mereka memanjat gitar tua, terus masuk melalui celah handle, lalu mengikat tubuh mereka pada stemmer gitar.
Terdengar kembali nada-nada magis tanpa seorang pun memetiknya.

"Aah, aku merasakannya, Alina!"

Aku tertawa, berputar-putar sambil merentangkan kedua tangan, memejamkan mata menikmati sensasi aneh saat sel-sel tubuhku diperbarui.

Kubuka mata. Cermin di dinding memantulkan wajah rupawan dengan senyum menawan. Aku kembali muda.

Nada-nada indah masih terus berdentingan memenuhi udara.

"Katakan Alina, apa keinginanmu? Cintaku kah, tubuhku?"

Alina perlahan mendekat. Mata keperakannya berpendar-pendar,"-tapi bukankah kau tidak mencintaiku, Samuel?"-lalu dua bulir kristal perak meluncur jatuh.

"Lalu apa maumu?" tanyaku datar.

"Aku ingin pergi. Selamanya."

Mendadak lantunan nada-nada terhenti. Helai-helai dawai perak melepaskan ikatan mereka.

"Ja-jangan. Tidak mungkin. K-kau ti-dak akan me-melakukannya!"

Suaraku? Nadanya kembali tua dan parau. Oh, tidak!

Tubuh Alina kembali meluruh seperti sehelai sutra, meliuk-liuk di lantai, lalu merambat naik memasuki lubang gitar. Helaian dawai perak berlarian menyusul Alina.

"Aaarrgghh!"

Bersamaan dawai perakku menghilang, tubuhku kembali ringkih, tulang-tulang di punggung menendangku hingga aku kembali terbungkuk.

"Alina ...."

Hampa. Tiada sahut. Aku menangis seketika, meraba dawai yang kini tiada, berharap tubuh mudaku kembali.

Cerita asli DI SINI

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *