Thursday, 5 November 2015

Karya Terpilih Prompt #94 : Dongeng Hitam


oleh De Baron Martha

 Nina memejamkan matanya, lalu terasa tangan Paman Nino mengusap wajahnya sekali sambil berkata, "Pada hitungan pertama, Nina akan merasa begitu tenang. Pada hitungan kedua, semakin tenang. Dan pada hitungan ketiga, Nina akan membuka mata dan di depanmu akan terlihat sebuah pohon dengan pintu di pangkal batangnya."

Dan vualaaa!! Pohon dengan pintu ajaib itu benar-benar ada di hadapannya ketika dia membuka mata. Mulut Nina ternganga, seakan tak percaya. Dia genggam erat tangan Paman Nino, seakan bertanya; apakah ini semua nyata?!


"Nina masih ingat ketika Paman dulu pernah berkata pada Nina, bahwa jika Nina mau ikut dengan Paman maka akan Paman wujudkan dunia yang selalu Nina impi-impikan itu? Maka sekarang, pergilah ke sana! Berlarilah menuju pintu itu! Di balik sanalah, dunia khayalan Nina itu berada. Berlarilah, sayangku!"

Nina menoleh sejenak kepada Paman Nino, tersenyum manis, lalu kaki-kaki kecilnya mulai berlari dengan gembira. Semakin kencang. Semakin gembira. Semakin dekat menuju pohon dengan pintu ajaib itu. Menuju dunia khayalannya. Dunia dengan bunga-bunga, kupu-kupu bersayap emas dan senja yang tak pernah bisa tenggelam.

* * * * * *

Bagi penyihir hebat seperti Nino, tidaklah sulit untuk menciptakan pohon dengan pintu ajaib seperti yang selalu diimpikan Nina. Sama sekali bukan hal yang sulit.

Dan dia merasa geli sendiri, melihat gadis itu berlari dengan kegembiraan khas anak kecil menuju ujung runcing sebatang tombak yang Nino pasang secara horisontal di tembok ujung sana.

Lalu…clap!! Langkah gadis itu terhenti, dan ujung tombak menyembul dari balik punggungnya. Ada sedikit erangan disertai suara kulit yang robek yang menegakkan bulu roma. Lalu darah segarpun mengucur deras.

Nino tak mau buang waktu lagi. Segera ia raih cawan emas di sampingnya. Dengan setengah berlari, ia hampiri tubuh Nina. Dia tadahkan cawan miliknya untuk menampung darah itu sebanyak-banyaknya.

Dan rembulan telah sepenuhnya purnama. Nino ucapkan mantra-mantra sambil menjujung tinggi cawan ke arah angkasa malam.

“Untuk keabadian. Untuk ketidakmatian.” Ucap Nino lirih penuh hayat, sebelum ia menenggak isi cawan emas itu.

Cerita asli di SINI

**
Tahukah kalian, dalam dongeng asli Cinderella dan Sepatu Kaca, para saudari tiri Cinderella memotong jari kaki dan tumit mereka agar muat dalam sepatu kaca? Atau kisah Tiga Babi Kecil dan Serigala Jahat, di mana si babi bungsu yang cerdik selalu bisa menghalau niat jahat serigala? Cerita aslinya sungguh menggiriskan. Serigala Jahat berhasil memakan dua babi dan berniat memakan babi bungsu. Si Bungsu berhasil menangkap Serigala Jahat, memasaknya hidup-hidup lalu memakannya. Yang juga berarti secara tak langsung si Bungsu memakan dua saudaranya sendiri. Cukup seram?

Begitulah yang sepertinya ingin disampaikan penulis. 'Cerita anak' tak selalu berjalan manis. Kadang ada kengerian yang menyertai. Dan penulis telah merangkumnya dengan cerdik dalam judul : Dongeng Hitam. Keren!


Baca juga tulisan teman-teman lainnya, yaa. Silakan saling berkunjung. :)

1. Liek - Pohon Mandira
2. Aulia Rahman - Kesah Penyihir 
3. Erin Friyana - Pohon Suci
4. de Baron Martha - Dongeng Hitam
5. Giarti - Pohon Itu
6. Aris Rahman - Pohon Esteria
7. Sariv Seva - Pohon Keramat
8. Glowing Grant - Pohon Berpintu

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *