Monday, 16 May 2016

Karya Terpilih Prompt #113 : Kasih Tak Sampai

Oleh: Choco Vanilla

“Ranti, ceritakan lagi kisah itu,” rengek April. Aku menghela napas panjang, memandang matanya yang memohon. Kuletakkan jahitan dan mulai berkisah, entah untuk yang keberapa kalinya.
Setiap geraknya adalah keindahan, meliuk dan melenggok seperti penari. Ikal mayang rambutnya halus menyentuh tanah, menebarkan aroma air mawar ketika angin membelainya. Hati Sangkuriang terombang-ambing cinta tak tertahankan setiap menatap keindahan itu.
“Bidadarikah engkau, sehingga kecantikanmu begitu menyilaukan?” rayunya. Wanita itu terkejut, menatap pemuda tampan di hadapannya. Lalu pandangannya menunduk, tak kuasa melawan pesona yang terpancar dari wajahnya.
Sejak saat itu, hanya madu dan anggur yang mereka kecap. Keindahan berbalut cinta membelenggu detak jantung dan aliran darah, hingga ikatan itu tak mungkin retas.
“Ranti, kapan Dayang Sumbi tahu bahwa itu anaknya sendiri?” sela April. Ah, gadis muda ini selalu tak sabar pada bagian itu. Kulanjutkan kisahku tanpa menjawab tanyanya.
Pada senja yang basah, ketika aroma rerumputan menguar mengharumkan udara, Sangkuriang bermanja pada kekasihnya, berbaring pada pangkuan yang penuh kerahiman. Dayang Sumbi mengusap penuh kasih dahi pemuda itu, setengah hatinya merindu pada buah hatinya yang entah di mana. Tersibaklah rambut tebal dan legam itu, memperlihatkan bekas luka yang sama dengan luka di hatinya. Belaiannya terhenti, gemetar tak terkendali.
“Kekasihku, dari mana kau dapatkan luka ini?”
Sangkuriang tersenyum pilu, berkisah tentang ibunya yang sedikit diingatnya, tentang anjing yang dibunuhnya, tentang ketidakmengertiannya.
“Sungguh aku merindukannya, namun kini tak lagi mengusikku, sebab cintamu terasa lebih indah, Kekasihku.”
Dayang Sumbi gundah, hatinya yang telah lama lelah semakin resah.
Aku terdiam. Ini saatnya aku membelokkan cerita, berusaha memberikan paham bahwa kisah ini mirip dengan hidupku. Kutukan turun temurun yang harus kuterima dalam keluarga. April terduduk, memberiku tatapan yang tak bisa kuabaikan. Lantas kulanjutkan kisahku.
Sebab tak mau bergelimang nikmat cinta terlarang, Dayang Sumbi menghabisi Sangkuriang. Tangisnya pedih menyayat, menggema di lereng-lereng gunung, menggetarkan siapa pun yang mendengar. Musim berganti tanpa terhenti dan kepedihan itu terus bergaung, mengapung di udara hingga hujan tak pernah mengering.
Aku mengakhiri kisahku, seperti biasa menghapus setitik air yang bergulir di pipi. Dongeng semusim yang selalu kuceritakan pada teman sekamarku di hotel prodeo yang memuakkan ini. Silih berganti mereka datang dan pergi, sementara aku menua di sini.
Beristirahatlah dalam tenang, Anakku, Kekasihku. Seperti Dayang Sumbilah aku, tak ingin berenang dalam kubangan dosa, karena bercinta denganmu.
***
Mayang menutup laptopnya dengan puas. Tugasnya telah selesai. Pelajaran mengarang ini selalu membuatnya bahagia.
Words: 382
--------

Cerita asli bisa dibaca di sini.

Hanya ada 3 flashfictioners yang ikutan tantangan Prompt #113, tapi itu nggak akan membuat admin nggak memilih yang terbagus di antara semuanya.

Flashfiction  menjadi yang terbaik, karena beberapa alasan. Salah satunya cerita yang simple dan mengena. Poin-poin yang harus dimasukan terjalin rapi. Kejutan pada ending dengan menggunakan salah satu poin menjadi hal yang sangat bagus.

Well done, Mbak Choco Vanilla.

Baca juga cerita teman kalian, ya. :)

1. Zen Ashura - Kisah Raja Abdul Saleh cek di sini
2. Rifki - Adin dan Sani cek di sini

No comments:

Post a Comment

Followers

Socialize

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *